Kisah Mereka dan BPJS Ketenagakerjaan: Bapak Tiada Anak Bisa Sarjana, ASN Iuran Bantu Sesama

2026-02-02 08:51:51
Kisah Mereka dan BPJS Ketenagakerjaan: Bapak Tiada Anak Bisa Sarjana, ASN Iuran Bantu Sesama
PURBALINGGA, - Melek asuransi di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan bisa meberikan manfaat ketika musibah datang tiba-tiba. Kisah ini datang dari Banyumas dan Purbalingga.Di Purbalingga, seorang anak tetap bisa merasakan kuliah meski bapaknya sudah tiada. Selain itu, juga ada cerita tentang kekompakan para Aparatur Sipil Negara (ASN) di Banyumas, yang berinisiatif menyisihkan gaji untuk membantu pekerja rentan.Titin Indrayanti (54), warga Karanganyar, Purbalingga punya tekad yang kuat untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya.Pedagang kelontong di pasar itu bekerja keras bersama Wirawan (56), sang suami yang bekerja sebegai sopir truk untuk memenuhi mimpi itu.Namun, kabar duka itu datang pada 20 Oktober 2023 silam. Wirawan meninggal dunia akibat kecelakaan di Rowokele Kebumen.Kepergian sang suami saat itu ibarat langit runtuh yang menimpa bahu. Ia harus berpikir keras, bagaimana cara bisa bertahan menghidupi ketiga buah hatinya tanpa Wirawan di sisinya.Baca juga: Puluhan Tahun Rawat Musolah, Keluarga Mendiang Arifin Tak Menyangka Dapat Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan“Padahal waktu itu (anak) yang nomor dua baru masuk semester satu. Saya bingung gimana caranya nanti bisa biayai kuliahnya sampai lulus,” ujar Titin ketika disambangi Kompas.com, Sabtu .Di tengah harapan yang redup itu, Titin teringat jika mendiang suaminya terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.Tak disangka, inisiatif Titin untuk mendaftar asuransi secara mandiri itu dapat menjadi pelita baru bagi keluarga kecilnya.“Bapak bukan Pegawai Negeri yang punya pensiunan, apalagi kan kerjaannya di jalan, risikonya besar. Jadi, saya pernah daftarkan BPJS di agen Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Almarhum malah tidak tahu kalau dia saya daftarkan,” terangnya.Tak berselang lama setelah mengurus berkas klaim, Titin pun menerima santunan kematian, biaya pemakaman, dan santunan berkala sebesar Rp 72 juta.Baca juga: Pejabat Pemkab Banyumas Akan Patungan Bayar Iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja RentanTak berhenti sampai di situ, lanjut Titin, BPJS Ketenagakerjaan juga memastikan beasiswa untuk kedua putra-putrinya hingga lulus perguruan tinggi.“Walaupun bapak sudah tidak ada, tapi berkat almarhum anak-anak kami bisa dapat beasiswa BPJS. Yang bungsu masih SMP dapat Rp 2 juta per tahun, kalau yang kuliah dapat Rp 12 juta tiap tahun. Alhamdulillah, cukup buat UKT dan biaya kuliahnya,” beber Titin.Dwi Rahma Yunianti (21), puteri kedua Titin merasa bersyukur memiliki orang tua yang sangat memerhatikan pendidikan anak-anaknya.“Walaupun Bapak sudah tiada, saya tetap menganggap itu sebagai salah satu bentuk kebaikan dan perjuangan beliau untuk pendidikan saya,” ungkap Dwi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-02 07:13