SOPPENG, – Setelah puluhan tahun harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai besar menggunakan rakit dan ban karet bekas, ratusan warga di tiga desa di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), akhirnya bisa bernapas lega.Warga di tiga desa yang terletak di Kecamatan Marioriwawo, yakni Desa Marioriaja, Desa Marioritengnga, dan Desa Watu, kini dapat menikmati akses penghubung berupa jembatan gantung yang telah lama mereka impikan.Jembatan gantung sepanjang 90 meter tersebut kini dapat diakses masyarakat dan menjadi solusi bagi tiga desa yang sebelumnya terisolir akibat keterbatasan sarana penyeberangan Sungai Lakellu."Sebelumnya permasalahan yang terjadi sebelum ada jembatan gantung, masyarakat baik dari anak sekolah sangat susah untuk mengakses," kata Hendra salah satu warga Desa Watu. Kamis .Baca juga: Walhi Kritik Usulan Presiden Prabowo Ekspansi Sawit dan Tebu di PapuaHendra menjelaskan, sebelum jembatan dibangun, masyarakat dan anak-anak sekolah hanya mengandalkan rakit dan ban karet untuk menyeberangi sungai besar tersebut."Masyarakat hanya menggunakan rakit atau ban, masyarakat juga di sini bergotong-royong untuk membuat rakit," ucap dia.Namun, permasalahan kembali muncul saat rakit yang dibuat warga hanyut terbawa arus sungai ketika debit air meningkat.Akibatnya, warga Desa Marioriaja dan Desa Marioritengnga terpaksa harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk menuju Desa Watu yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pendidikan."Beberapa tahun lalu, rakitnya hanyut. Akhirnya masyarakat jalan kaki memutar jauh kira-kira jarak 30 kilometer. Karena di Desa Watu itu tempat perekonomian masyarakat," imbuhnya.Setelah jembatan gantung yang juga dapat dilalui sepeda motor tersebut dibangun, jarak tempuh warga menuju pusat aktivitas kini hanya sekitar satu kilometer."Jembatan gantung ini pasti akan mempermudah akses masyarakat untuk menuju mata pencahariannya, ke pusat perekonomian, maupun tempat pendidikan lainnya," kata Hendra.Warga lainnya, Andi Sardia (49), mengungkapkan bahwa sejak dirinya masih kecil, warga desa sudah terbiasa menggunakan rakit sederhana untuk menyeberangi sungai."Kalau sebelum ada jembatan ini, dulu kita pakai rakit. Itupun sudah beberapa kali hanyut akhirnya anak sekolah kalau misalnya banjir, dia harus menantang arus. Kalau pakai ban terombang-ambing, anak sekolah kasian basah-basah bajunya," ujar Sardia.Ia juga menceritakan pengalaman pribadinya yang penuh risiko saat menggunakan rakit untuk menyeberangi Sungai Lakellu menuju kebun."Pengalaman saya pakai rakit, pakaian harus bahas kuyup. Kita menantang arus. Saya pernah terbawa arus jadi baku pegangan sama suami," kata Sardia.
(prf/ega)
Hampir 50 Tahun Menanti, Jembatan Gantung Akhiri Derita Warga Tiga Desa di Soppeng
2026-01-11 15:35:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 15:28
| 2026-01-11 15:21
| 2026-01-11 12:56
| 2026-01-11 12:56










































