Murid SD di Pekanbaru Meninggal Diduga karena Bullying, Pihak Sekolah: Kami Tak Tahu Ada Kekerasan

2026-02-05 07:00:15
Murid SD di Pekanbaru Meninggal Diduga karena Bullying, Pihak Sekolah: Kami Tak Tahu Ada Kekerasan
PEKANBARU, - Seorang murid SD Negeri 108 Pekanbaru, Riau, MAR (13), meninggal dunia akibat tindakan bullying.Menanggapi hal ini, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui adanya kejadian tersebut."Enggak tahu ada (kekerasan). Baru kemarin tahu (setelah) meninggal kami ke sana (rumah duka)," ucap Kepala SD Negeri 108 Pekanbaru, Artina, saat diwawancarai wartawan di sekolahnya, Senin .Artina menyebut, korban sehari-hari dikenal baik dan pendiam.Pihaknya menyampaikan dukacita yang mendalam atas meninggalnya korban.Baca juga: Murid SD Meninggal Diduga karena Bullying di Pekanbaru, Disdik: Kami Cek KebenarannyaLebih lanjut, Artina menegaskan bahwa sekolahnya selama ini sudah rutin memberikan edukasi anti-bullying kepada murid."Tidak ada praktik bully di sekolah kami. Semua dalam pengawasan. Setiap pagi saya selalu ingatkan anak-anak, jangan mem-bully, jangan melakukan kekerasan. Itu rutin kami lakukan," sebutnya.KOMPAS.COM/IDON Kepala SD Negeri 108 Pekanbaru, Artina, saat diwawancarai wartawan terkait kasus kematian murid diduga korban bullying, Senin .Artina memastikan bahwa pihak sekolah akan lebih memperketat pengawasan."Supaya tidak ada bullying, mulai sekarang pengawasan akan diperketat lebih dari biasanya. Kami tidak ingin ada kejadian seperti ini terulang," tuturnya.Baca juga: Pesan Murid SD ke Ibunya Sebelum Meninggal Diduga karena Bullying di PekanbaruSebagaimana diberitakan, murid kelas VI SDN 108 Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukitraya, Pekanbaru, Riau, meninggal dunia diduga akibat bullying, Minggu .Korban berinisial MAR meninggal dunia usai diduga di-bully teman sekelasnya di sekolahnya.Sebelum meninggal, korban bercerita kepada ibunya bahwa ia sempat ditendang kepalanya oleh teman sekolahnya.Peristiwa itu terjadi saat korban dan teman sekelasnya sedang belajar kelompok.Akibatnya, korban diduga mengalami lumpuh otak hingga meninggal dunia.Pihak keluarga korban telah menunjuk kuasa hukum untuk menangani kasus ini.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Hans Patuwo bukan sosok baru di lingkungan GoTo. Ia telah bekerja hampir delapan tahun di ekosistem Gojek, GoPay, dan GoTo. Ia bergabung dengan Gojek pada 2018 sebagai Chief Operating Officer, dengan fokus pada penguatan operasional dan ekosistem mitra driver.Pada 2021, Hans dipercaya memimpin unit bisnis yang kemudian berkembang menjadi GoTo Financial. Di posisi tersebut, ia mengawasi peluncuran layanan pinjaman dan pengembangan aplikasi GoPay, yang kini menjadi salah satu platform fintech terbesar di Indonesia.Baca juga: KPPU Denda TikTok Rp 15 Miliar Karena Telat Lapor Akuisisi TokopediaAwal 2024, Hans ditunjuk sebagai Chief Operating Officer GoTo dan bertanggung jawab atas strategi grup serta proyek migrasi cloud perusahaan. Perannya kembali diperluas pada Juli 2025, ketika ia dipercaya sebagai Presiden On-Demand Services.Sebelum bergabung dengan Gojek, Hans memiliki pengalaman internasional dengan bekerja di Amerika Serikat, China, dan Singapura. Ia juga pernah menjabat sebagai Partner di firma konsultan manajemen global McKinsey.YouTube.com/Gojek Goto, layanan Gojek dan Tokopedia.Penunjukan CEO baru ini terjadi di tengah sorotan pasar terhadap arah strategis perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia itu.Berdasarkan laporan Bloomberg, saham GoTo tercatat naik sekitar 20 persen sepanjang kuartal ini di Bursa Efek Indonesia, mengungguli kinerja sejumlah perusahaan ride-hailing dan pengantaran global.Kenaikan saham tersebut terjadi menjelang Rapat Umum Pemegang Saham yang menjadi momen penting bagi arah strategis perusahaan, termasuk persetujuan pengangkatan Hans Patuwo sebagai CEO baru.Meski saham GoTo menguat, valuasi perusahaan masih jauh dari masa awal IPO. Kapitalisasi pasar GoTo kini berada di bawah 5 miliar dollar AS, turun drastis dari puncaknya yang sempat menembus 30 miliar dollar AS pada 2022.

| 2026-02-05 05:08