Redy Rahadian dan Bahasa Logam dalam Seni Patung Kontemporer Indonesia

2026-01-12 00:18:20
Redy Rahadian dan Bahasa Logam dalam Seni Patung Kontemporer Indonesia
- Seni patung kontemporer Indonesia pada 2025 tengah mengalami fase transformasi signifikan.Semakin banyak seniman bereksperimen dengan teknik serta material industri, menghasilkan karya yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga memicu refleksi tentang identitas, ruang, dan teknologi.Seiring perkembangan itu, ruang seni dan ekosistem rupa nasional mulai memberi porsi lebih besar bagi karya tiga dimensi.Komisi patung untuk ruang publik meningkat, Art Fair, menampilkan lebih banyak instalasi. Sementara, kolektor domestik kian menaruh minat terhadap karya figuratif dan eksperimental.Di tengah dinamika tersebut, nama pematung kontemporer Redy Rahadian mencuat sebagai figur penting yang memadukan kecakapan teknik dengan kedalaman narasi humanis berbasis logam.Baca juga: Gabungan antara Seni Lukis dan Seni PatungPria kelahiran Cianjur itu dikenal lewat karya-karya patung logam yang inovatif dan melampaui bentuk konvensional.Ia menempuh pendidikan formal bidang mekanik di Institut Saint Joseph, Brussel, Belgia, jurusan Mécanique Garage. Penguasaan teknologi pengelasan logam yang diperolehnya di Eropa menjadi fondasi kreatif sekaligus identitas estetikanya.“Logam bagi saya bukan material dingin. Ia menyimpan harapan dan keteguhan manusia di dalamnya,” ujar Redy dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu .Mulai aktif berkarya sejak 1997, Redy mengeksplorasi potensi artistik berbagai jenis logam, seperti baja, aluminium, dan tembaga.Ia meyakini bahwa benda-benda keseharian tak semata memiliki fungsi praktis, melainkan menyimpan potensi estetika yang “tidak terlihat”.Baca juga: Hanya Ada Dua SMK yang Punya Konsentrasi Keahlian Seni PatungFilosofi itu mendorong dirinya untuk menaruh perhatian pada detail kecil dan mengubahnya menjadi bentuk patung yang segar dan penuh karakter.Pendekatan figuratif menjadi ciri khas karya Redy. Figur-figur manusia dari baja kerap ia hadirkan dalam posisi saling menopang, bergerak, atau membentuk struktur kolektif.Karya sarat metaforaSalah satu karyanya yang menonjol, Ambition (2007), menampilkan sosok miniatur yang seolah menopang dunia di pundaknya, metafora sederhana tentang impian, kekuatan, dan perjuangan manusia untuk terus melangkah.Dok. Istimewa Salah satu maha karya Redy Rahadian berjudul Terbang Tinggi yang terpajang di Main Lobby The Apurva Kempinski Bali.Jejak karier Redy mulai menonjol pada 2003 ketika ia meraih Metro TV Eagle Award Sculpture Trophy dan terpilih untuk proyek patung publik di Sun Plaza, Medan.


(prf/ega)