Nek Nurjanah, Penjaga Makam Perempuan di Ogan Ilir yang Mengabdi Tanpa Upah

2026-01-11 22:48:52
Nek Nurjanah, Penjaga Makam Perempuan di Ogan Ilir yang Mengabdi Tanpa Upah
OGAN ILIR, - Nek Nurjanah (62), warga Jalan Muhajirin, Kelurahan Indralaya Indah, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sudah delapan tahun terakhir menghabiskan hari-harinya sebagai penjaga makam di TPU Taman Riang Indralaya.Setiap pagi sekitar pukul delapan, ia datang membawa arit dan tengkuit. Ia membersihkan rumput, merapikan area makam, hingga menyemprot gulma jika sudah terlalu tinggi.“Saya menjadi penjaga makam sejak tahun 2017, tidak ada yang meminta ataupun menyuruh. Saya langsung saja datang membersihkan makam tanpa digaji ataupun dapat honorer. Namun alhamdulillah ada saja rezeki dari pengunjung yang berterima kasih atau dari masyarakat yang kasihan kepada saya,” katanya saat ditemui di pondok kecil tempat ia beristirahat.Sebelum menjalani profesi ini, Nek Nurjanah berdagang keliling ke pasar mingguan. Ia merasa pekerjaan itu melelahkan dan tidak memberi ketenangan batin.“Dulu saya berdagang ke mana-mana, mengejar kalangan, tidak berkesudahan,” kata perempuan yang ditinggal wafat suaminya, Aidil Fitri.Kini, merawat makam membuatnya merasa lebih dekat dengan ketenteraman. Ia bisa beribadah dengan tenang dan merasa bahagia menjalani pekerjaan itu, meski tidak semua orang menghargainya. Ia mengaku pernah diejek atau dianggap aneh karena memilih mengurus makam.“Saya kerap diremehkan dan diejek. Bahkan ada yang mengatakan saya gila karena mau mengurus orang yang sudah meninggal, padahal yang hidup masih banyak. Tapi semua saya acuhkan saja,” ujarnya.Baca juga: Cerita Penjaga Makam TPU Kembang Kuning Surabaya, dari Gali Kubur hingga Dikejar TranspuanAMRIZA NURSATRIA HUTAGALUNG Nek Nurjanah seorang nenek yang mengabdikan dirinya menjadi penjaga makam perempuan di Ogan IlirAda pula warga yang tidak memberi apa pun karena merasa tidak pernah meminta makam keluarganya dibersihkan. Namun, setiap mereka datang ziarah, makam keluarganya tetap bersih.“Saat mereka ziarah mereka terlihat malu dan tak mau melewati pondok karena melihat makam keluarganya telah bersih,” ujar Nek Nurjanah sambil tersenyum.Meski tidak mendapat honorer dari pemerintah, tidak terdaftar di BPJS, dan tidak pernah menerima bansos atau PKH, selalu ada warga yang datang membantu. Ada dari Ponpes Al-Ittifaqiyah Indralaya, Polsek Indralaya, hingga warga seperti Koyel dan beberapa tokoh masyarakat.“Alhamdulillah ada saja yang datang memberi uang dan peralatan pembersihan. Namun sayang peralatan bantuan tersebut sering sekali hilang,” katanya.Baca juga: Kisah Horor dan Mistis di Balik Profesi Penjaga Makam di Surabaya, Jarwo: Saya Nggak PercayaAMRIZA NURSATRIA HUTAGALUNG Nek Nurjanah seorang nenek yang mengabdikan dirinya menjadi penjaga makam perempuan di Ogan IlirSelama menjadi penjaga makam, ia mengaku tidak pernah merasa takut atau melihat hal-hal gaib. Namun, beberapa kali ia mencium aroma bunga atau bau susu bayi yang datang dari arah makam.Ia juga mengaku beberapa kali bermimpi didatangi orang-orang yang dimakamkan di TPU itu.


(prf/ega)