Anggota Komisi VII DPR Ampon Bang Tembus Daerah Terisolir Bencana Aceh di Gayo Lues

2026-02-03 05:29:29
Anggota Komisi VII DPR Ampon Bang Tembus Daerah Terisolir Bencana Aceh di Gayo Lues
Jakarta - Kondisi pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh memicu keprihatinan mendalam akibat terputusnya akses transportasi dan distribusi logistik.Kerusakan infrastruktur yang mencapai 70 persen telah menyebabkan sejumlah wilayah, terutama di Kecamatan Pining, mengalami isolasi total. Situasi ini menuntut aksi nyata dan percepatan penanganan agar masyarakat terdampak tidak terjebak dalam krisis pangan dan kesehatan yang lebih parah.Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Teuku Zulkarnaini atau Ampon Bang merespons cepat kondisi tersebut dengan meninjau langsung lokasi bencana selama empat hari, mulai 19 hingga 22 Desember 2025.AdvertisementTidak sekadar meninjau, Ampon Bang menembus medan berat dengan berjalan kaki selama 10 jam menuju Gampong Pertik akibat jembatan putus dan akses jalan yang tertutup longsor."Ini masalah paling berat yang dirasakan masyarakat. Banyak warga terisolir dan sangat membutuhkan beras, apalagi saat ini belum memasuki masa panen," ujar Ampon Bang di sela-sela kunjungannya, yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Kamis .Dalam aksi kemanusiaan tersebut, Ampon Bang menyalurkan bantuan logistik dalam jumlah besar, meliputi 25 ton beras, 3.000 kotak mi instan, dan 3.000 liter minyak goreng.Selain bantuan pangan, ia juga menginisiasi layanan kesehatan gratis berupa pemeriksaan medis dan pemberian obat-obatan bagi warga di Kecamatan Pining.Langkah ini didukung penuh oleh tim medis gabungan dari Brimob Polda Aceh Batalyon C Pelopor, unsur TNI, serta tenaga medis Rumah Sakit Gayo Lues yang dikoordinir langsung untuk memastikan masyarakat mendapatkan perawatan di tengah keterbatasan akses. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 04:31