JAKARTA, - Jakarta kerap dipotret sebagai kota peluang. Gedung-gedung perkantoran menjulang, pusat bisnis berdenyut sejak pagi, dan roda ekonomi berputar cepat.Namun, di balik statistik pertumbuhan dan hiruk-pikuk pusat kota, ada rutinitas panjang yang dijalani jutaan pekerja setiap hari perjalanan berjam-jam dari kota penyangga menuju Jakarta, lalu kembali pulang saat malam.Psikolog klinis sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim menyebut perjalanan panjang dan rutinitas berulang seperti ini tidak bisa dilepaskan dari dampak psikologis.Baca juga: Melawan Waktu: Realitas Hidup Komuter Kota Penyangga demi Kerja di JakartaNamun, dampak tersebut tidak selalu tampil dalam bentuk drama besar atau gangguan yang kasat mata.“Faktanya realita hidup itu enggak selalu sejalan dengan ide kita tentang apa yang ideal, yang kita suka, maunya kita. Ya mau diapakan. Pilihannya adalah you take it, or leave it,” ujar Ratih Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Kamis .Menurut Ratih, seseorang sebenarnya selalu memiliki pilihan. Jika jarak menjadi kendala utama, maka pilihan lainnya adalah mencari pekerjaan yang lebih dekat dari tempat tinggal.Namun, realitas ekonomi membuat pilihan itu tidak selalu tersedia.“Terutama ketika dengan penuh kesadaran dan pertimbangan matang dalam membuat keputusan akan pilihan pekerjaan dan konsekuensinya,” kata Ratih.Ratih menekankan, ketika keputusan diambil secara sadar, kondisi tersebut tidak selalu menjadi sumber penderitaan psikologis."Artinya, tidak bakal jadi drama hidup, atau romantisasi penderitaan karena memang harus berjuang untuk hidup kan. Dipilih, diterima, dijalankan dengan sebaik-baiknya,” ucap dia.Dalam konteks ini, Ratih menyebut konsep growth mindset sebagai mekanisme bertahan yang kerap muncul pada pekerja komuter."Artinya, masalah yang ada justru jadi tantangan atau stimulus untuk dicari solusinya, dan solusi disesuaikan dengan konteks hidupnya,” ujar dia.Bentuk adaptasi itu sering kali sederhana dan praktis."Mengembangkan daya adaptif. Semisal sesederhana membawa bekal untuk sangu termasuk air minum yang cukup. Bawa sepatu ganti, semisal di kantor tidak boleh mengenakan sepatu kets, dan lain-lain,” kata Ratih.Cara berpikir semacam ini, menurut Ratih, membuat banyak pekerja mampu menormalisasi kelelahan fisik dan mental sebagai bagian dari konsekuensi hidup urban.Baca juga: Alasan Warga Depok dan Bekasi Betah Jadi Komuter meski Biaya Transportasi TinggiNormalisasi kelelahan itu hidup dalam keseharian Amelia Putri (24), pekerja marketing yang bekerja di Sudirman, Jakarta Pusat.Sejak awal 2023, Amelia menjalani rutinitas pulang-pergi dari Bogor ke Jakarta tanpa ngekos.“Biasanya berangkat subuh, sekitar jam lima pagi, naik KRL dari Stasiun Bogor lalu sambung ojek online ke kantor,” kata Amelia saat ditemui Kompas.com, Jumat .Keputusan tinggal di Bogor bukan tanpa perhitungan. Amelia menyebut biaya sebagai faktor utama.Harga kos di sekitar Sudirman dan Setiabudi dinilai terlalu tinggi untuk pekerja muda sepertinya.“Untuk kos yang layak bisa di atas Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta per bulan, belum termasuk makan dan kebutuhan lain. Kalau di Bogor, saya masih tinggal dengan orangtua, jadi pengeluaran bisa ditekan,” ujar dia.Waktu tempuh perjalanan Amelia rata-rata mencapai dua jam sekali jalan. Dalam kondisi tertentu, durasinya bisa lebih panjang akibat kepadatan KRL atau gangguan perjalanan.Ia kerap tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam. Tantangan terberat bagi Amelia, bukan hanya kelelahan fisik."Capek fisik dan mental. Di KRL harus berdiri, berdesakan, kadang susah napas. Tapi mau bagaimana lagi, ini pilihan yang paling masuk akal secara finansial,” kata dia.
(prf/ega)
Beban Mental dan Fisik Pekerja Komuter Penyangga Jakarta, "Take It or Leave It"
2026-01-11 03:27:02
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:11
| 2026-01-11 02:48
| 2026-01-11 02:34
| 2026-01-11 02:32










































