JAKARTA, – Krisis air bersih global kian mengkhawatirkan. Indonesia mulai mendorong masuknya investasi besar untuk memperkuat infrastruktur air, dari air minum hingga pengelolaan air limbah.Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menekankan nilai strategis investasi air dalam Forum Dialog Ketahanan Pangan yang digelar Purnomo Yusgiantoro Forum (PYC), disiarkan Kamis .“Menurut Bank Dunia, setiap 1 dollar investasi air dapat menghasilkan imbal hasil 4,5 dollar, baik dalam pertumbuhan ekonomi, kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, maupun ketahanan iklim,” ujar Retno.Baca juga: Iran Alami Kekeringan Parah, 14 Juta Warga Teheran Berisiko DirelokasiRetno menjelaskan dunia kini berada dalam kondisi darurat air. Sebanyak 2,2 miliar orang tidak memiliki akses air minum aman. Satu dari empat penduduk dunia kekurangan air bersih.Data lain menunjukkan 3,5 miliar orang tidak memiliki sanitasi layak. Lalu 702 juta orang hidup di negara yang mengalami stres air tinggi. Sebanyak 3,2 miliar orang tinggal di kawasan pertanian yang kekurangan air tinggi atau sangat tinggi.Ketersediaan air tawar yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan hanya 0,5 persen dari total air di bumi.Retno menilai kondisi tersebut hanya dapat dijawab dengan dorongan investasi besar pada infrastruktur air. Retno menegaskan pembangunan infrastruktur tidak hanya mencakup konstruksi fisik.“Hal yang dapat dilakukan pertama investasi besar untuk infrastruktur air, termasuk infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim. Infrastruktur tidak hanya berarti bangunan fisik, tetapi juga investasi dalam ekosistem seperti restorasi lahan basah, perlindungan daerah tangkapan air, konservasi tanah, dan lainnya," paparnya.Baca juga: Perubahan Iklim di Pegunungan Melesat Cepat, Ancam Miliaran OrangSumber pembiayaan sektor air masih bertumpu pada anggaran publik. Retno mencatat 91 persen pendanaan berasal dari dana pemerintah. Negara berkembang rata-rata hanya mengalokasikan 0,5 persen PDB untuk sektor air. Rendahnya minat investasi muncul karena anggapan sektor air berisiko tinggi dan berkeuntungan rendah.
(prf/ega)
Investasi Air Indonesia Dianggap Masih Minim, Kebutuhan Capai Rp 4.000 Triliun
2026-01-12 07:01:25
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:55
| 2026-01-12 06:49
| 2026-01-12 06:17
| 2026-01-12 06:10
| 2026-01-12 05:46










































