"Kami Menunggu Hujan Reda untuk Panen, tapi Kini Sawahnya Hilang Tersapu Banjir"

2026-01-12 05:52:11
- Pilu masih dirasakan warga di Desa Meuse, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh selepas banjir Sumatera yang menerjang pada 26 November 2025.Dua puluh hari pascabanjir, ratusan warga masih tidur berdesakan di lantai posko pengungsian, hanya beralaskan tikar sederhana.Baju yang dikenakan pun seadanya saja. "Karena banyak baju warga yang sudah tertimbun lumpur, tak bisa diambil lagi. Tapi sebagian bisa dicuci dan dibersihkan dari lumpur yang menempel," papar Zahrul Fuadi, sekretaris desa, kepada Kompas.com, Selasa melalui sambungan telepon.Baca juga: Hidup di Pengungsian, Warga Desa Meuse Bireuen Bertahan dengan Mi Instan dan MBGKesedihan warga Meuse tidak hanya soal rumah yang sekarang tidak layak huni lagi karena tertimbun lumpur, tapi juga karena sebagian warga kini kehilangan mata pencaharian."Kebanyakan warga desa di sini ya bertani, punya sawah dan ladang, Total ada sekitar 17 hektar ladang milik warga Meuse," papar Fuad.Menurut Fuad, beberapa hari sebelum air bah menerjang, warga desa sebenarnya tengah penuh senyum karena padi sudah menguning, tinggal menunggu untuk dipanen."Sebelum banjir itu, memang hujan terus, makanya kami sabar menunggu hujan reda untuk akhirnya panen padi," kenang Fuad.Namun sayang, takdir berkata lain. Tepat pada Rabu pagi, banjir mulai "bertamu" ke Desa Meuse. "Kami benar-benar tidak mengira akan banjir sebesar itu. Ini pertama kalinya. Biasanya di tahun-tahun kemarin, ketinggian air maksimal hanya 30 cm saja, itu pun hanya di jalan-jalan yang rendah," papar Fuad.Pada puncaknya, banjir mengalir deras menerjang Desa Meuse, dengan ketinggian air mencapai 3 meter. Warga pun berlarian mengungsi. Beberapa terjebak arus dan harus berpegangan pada pohon kelapa dan rambutan, dan bertahan di sana semalam suntuk hingga air surut."Alhamdulillah, warga Meuse semua selamat, tak ada korban jiwa," ujar Fuad penuh syukur.Meski begitu, selepas air surut, warga harus menelan pil pahit dua kali. Selain rumah rusak, sawah dan ladang pun lenyap."Kami menunggu hujan reda untuk panen, tapi kini sawahnya sudah hilang tersapu banjir," kenang Fuad.Baca juga: Hidup Tanpa Listrik dan Air Bersih Pascabanjir, Warga Pidie Jaya Tetap Jaga Adat Memuliakan Tamu


(prf/ega)