Viral Narasi Jukir Tarik Parkir Rp 100.000 di Masjid Sheikh Zayed Solo, Dishub Bantah

2026-01-14 06:18:42
Viral Narasi Jukir Tarik Parkir Rp 100.000 di Masjid Sheikh Zayed Solo, Dishub Bantah
SOLO, - Juru parkir (jukir) di kawasan wisata Masjid Raya Sheikh Zayed Solo kembali menjadi sorotan setelah unggahan di media sosial menuding adanya penarikan tarif parkir melebihi ketentuan atau ngepruk.Foto dan informasi soal jukir yang disebut memaksa menarik tarif Rp 100.000 per mobil dan Rp 400.000 per bus itu dibagikan akun Instagram @beritasolohariini sebelum akhirnya dihapus.Peristiwa tersebut diklaim terjadi pada Rabu .Kepala UPT Perparkiran Dinas Perhubungan (Dishub) Solo, Haryono Nugroho, menegaskan bahwa akun yang memviralkan informasi itu adalah akun palsu."Sudah ditangani. Akunnya, akun fake," kata Haryono saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis .Baca juga: Kronologi Penipuan Katering Paket Buka Puasa untuk Masjid Sheikh ZayedDishub Solo telah memanggil jukir yang disebut dalam unggahan viral tersebut.Haryono menjelaskan, lahan parkir tempat jukir itu bertugas hanya menampung tiga sampai empat mobil dan tidak memungkinkan untuk bus."Jukirnya saya panggil. Keterangannya lahannya hanya bisa untuk tiga mobil. Tidak bisa buat bus. Kemarin waktu kita cari info di lapangan juga sama, tidak pernah menarik bus. Kita tanyakan ke yang lain tidak ada yang menarik segitu," ujar dia.Menurut Haryono, hasil penelusuran menunjukkan bahwa narasi unggahan di media sosial berbeda-beda dan dipastikan tidak sesuai fakta."(Postingan) palsu. Itu keterangannya diganti-ganti dengan orang yang sama," katanya.Baca juga: Perda soal Tarif Parkir Swasta 5 Kali Lipat Terbit Era Wali Kota Yogyakarta Haryadi SuyutiWali Kota Solo Respati Ardi menegaskan bahwa pemerintah akan menindak tegas jukir yang tidak sesuai aturan, terlebih saat periode libur Natal dan Tahun Baru."Karena jukir ini wajah kota. Jadi kita spesial Dishub saya undang untuk pembinaan jukir terutama di musim-musim liburan ini jangan sampai membawa nama Solo jadi jelek," kata Respati.Ia juga mengatakan pihaknya akan menata dan memfungsikan jukir di jalan protokol agar dapat mendukung kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Solo selama libur akhir tahun.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 04:40