Cerita Nasib Ukir Jepara: Pemuda Pilih Kerja Pabrik, Perajin Tradisional Tersisih Mesin

2026-01-11 22:51:32
Cerita Nasib Ukir Jepara: Pemuda Pilih Kerja Pabrik, Perajin Tradisional Tersisih Mesin
JEPARA, - Minat anak muda di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, untuk menjadi pengukir seakan semakin tergerus seiring bertambahnya lowongan kerja di pabrik.Kemauan untuk mewarisi sebuah kesenian khas ini terasa mulai memudar. Di sisi lain, para perajin tradisional juga sedang dihadapkan dengan produk perusahaan mebel yang menggunakan mesin.Sukarno (48), salah satu perajin ukir asal Jepara yang sudah menekuni profesi ini sejak tahun 1992, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut.Ia mengatakan, saat ini jumlah pengukir muda semakin sedikit, bahkan hampir langka di lingkungannya.“Sekarang sudah jarang yang mau ukir. Banyak yang bilang lebih baik kerja di pabrik, gajinya pasti daripada mengukir,” ujarnya, Jumat .Sukarno sendiri sudah mengenal dunia ukir sejak kecil. Ia mulai belajar saat duduk di bangku kelas 3 SD, mengikuti jejak sang kakak yang lebih dulu menjadi perajin.“Dulu di sekitar rumah saya banyak pengukir. Sekarang tinggal beberapa saja,” kenangnya.Baca juga: Harapan Besar Fadli Zon pada Museum Kartini: Seniman Jepara Harus DimanfaatkanIa menilai, menurunnya minat generasi muda disebabkan karena hasil dari usaha ukir tidak lagi sebanding dengan tenaga dan waktu yang dibutuhkan.Persaingan dengan perusahaan mebel besar yang menggunakan mesin modern membuat harga ukiran buatan tangan kalah di pasaran.“Mau jual mahal, gak laku. Kalau disamakan sama harga pabrikan, gak cukup buat biaya operasional,” keluhnya.Meskipun begitu, pesanan ukir masih ada, meski jumlahnya tak sebanyak dulu. Saat ini, ia masih mengerjakan beberapa pesanan dari Purwodadi.“Dulu pernah kirim ke Jakarta, Sukoharjo, Malang, Kediri, bahkan juga ke Sumatera,” ujarnya bangga.Baca juga: Fadli Zon Dukung Pendaftaran Ukir Jepara ke UNESCOAngga, salah satu pemuda asal Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, mengungkapkan, bekerja di pabrik memberinya kepastian pendapatan. Sementara, menjadi pengukir hasilnya kurang pasti."Sekarang saya lebih memilih kerja di pabrik. Bukan karena saya tidak bangga dengan seni ukir Jepara, tapi hasilnya kurang pasti," tuturnya.Pria berusia 28 tahun itu menjelaskan, bahwa di pabrik ia mendapatkan gaji tetap setiap bulan, jaminan kerja, serta jam kerja yang teratur.


(prf/ega)