UMKM di Gorontalo Bawa Kain Karawo dan Abon Tuna Tembus Pasar Global

2026-01-11 03:26:02
UMKM di Gorontalo Bawa Kain Karawo dan Abon Tuna Tembus Pasar Global
GORONTALO, – Dari workshop sederhananya di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Isnawati Mohamad menatap lembar kain berwarna lembut hasil ecoprint. Di atasnya, motif khas karawo tersulam halus, berpadu dengan warna alami dari daun dan bunga.“Semua (bahan berasal) dari alam. Saya hanya membantu alam bercerita,” kisah Isnawati saat menerima kunjungan Kompas.com, Selasa .Isnawati adalah sosok di balik Tiar Handycraft, yakni usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kreatif yang kini dikenal luas. Produk ecoprint karawo karyanya pernah tampil dalam business matching di Dubai dan program Women Lead MSMEs di Australia.Di balik pencapaian itu, ada perjalanan panjang penuh eksperimen, jatuh bangun, dan peran nyata Bank Indonesia (BI) yang mendampingi setiap langkahnya.Isnawati memulai usaha pada 2019 sebagai UMKM binaan Bank Indonesia dengan produk berbahan eceng gondok—tanaman air yang sering dianggap gulma.Sayang, pandemi Covid-19 memukul usaha kecil itu. Untuk bertahan, ia bereksperimen dengan teknik pewarnaan alami dari daun dan bunga (ecoprint) yang kemudian ia padukan dengan sulaman tradisional Gorontalo atau yang dikenal dengan sebutan karawo.“Inspirasi saya datang dari alam dan budaya Gorontalo. Ecoprint karawo ini seperti jembatan antara tradisi dan masa depan,” katanya.Perpaduan itu menghasilkan produk unik dan ramah lingkungan. Latar belakangnya sebagai Dosen Seni Rupa dan Desain Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo membuat Isnawati berani bermain warna dan komposisi. Dari situ lahir ide Karawo Saset—versi kecil dari sulaman tangan tradisional yang tetap indah, tetapi lebih terjangkau bagi pasar muda.Bank Indonesia melihat potensi besar dari karya tersebut. Melalui program pembinaan, Isnawati mendapat pelatihan desain, manajemen usaha, modal usaha, dan pendampingan untuk tampil di pameran nasional Karya Kreatif Indonesia (KKI).“Melalui KKI, saya belajar banyak soal tren fesyen dan cara membaca selera pasar,” ujarnya.Dok. /ANINGTIAS JATMIKA Isnawati, pemilik Tiar Handycraft, salah satu UMKM BI Gorontalo. Omzetnya kini mencapai Rp 50–100 juta per bulan, bahkan sempat menembus Rp 150 juta hanya dalam empat hari saat pameran KKI 2025.BI juga memberikan bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar proses pewarnaan alami tidak mencemari lingkungan. Upaya ini menjadikan Tiar Handycraft sebagai proyek percontohan UMKM hijau di Gorontalo.Regenerasi dan wirausaha hijauKini Isnawati membawahi lebih dari 100 perajin karawo perempuan di berbagai kampung sekitar Kabupaten Bone Bolango, serta menerima siswa magang dari SMK dan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi. Ia juga aktif memberi pelatihan green entrepreneurship kepada berbagai komunitas.“Prinsipnya sederhana, apa yang diambil dari alam harus dikembalikan ke alam,” ucapnya.Ia pun menggandeng Hotel Fox Gorontalo untuk mengenalkan teknik mokarawo, yakni modifikasi karawo dengan gaya kontemporer, agar kain tradisional Gorontalo tak lagi dianggap kuno.Isnawati berharap, karawo bisa sejajar dengan batik atau tenun dalam kancah mode nasional.Berkat ketekunannya, Tiar Handycraft kini menjadi wajah baru wastra hijau Indonesia. Produk-produknya tak sekadar busana, tapi juga simbol transisi menuju ekonomi kreatif yang berkelanjutan.Dari cucur ke abon tunaBeberapa kilometer dari bengkel kerja Isnawati, aroma tuna pedas menyeruak dari dapur Bilal Mekar Snack. Di sanalah Risna Tamrin Hasan mengubah dapur rumahnya menjadi pabrik kecil penuh aktivitas.Ia tak pernah menyangka langkah kecil membuat kue cucur pada 2008 akan mengantarkannya menjadi salah satu UMKM unggulan binaan Bank Indonesia dengan omzet hingga Rp 100 juta per bulan.Saat itu, Risna hanyalah ibu rumah tangga berusia 28 tahun yang sedang kesulitan ekonomi. Uang di tangan hanya Rp 100.000. Bersama mertuanya, ia membuat kue cucur dan menitipkannya di warung.“Hari pertama cuma laku 30 kue, tapi semangat saya tumbuh,” kenangnya.Beberapa tahun kemudian, ia mencoba membuat camilan tradisional curuti (semprong khas Sulawesi). Penghasilannya kecil, hanya Rp 30.000 sebulan, tetapi cukup untuk menambah kebutuhan keluarga.Titik balik terjadi ketika ia mengikuti pelatihan Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta mulai memahami pentingnya kemasan, legalitas, dan nilai merek.Namun, perjalanan itu tak mulus. Ia sempat bangkrut dua kali, pada 2009 dan 2013, karena belum mampu memisahkan keuangan usaha dan pribadi.Dari pengalaman itu, Risna belajar manajemen keuangan hingga akhirnya beralih ke olahan ikan yang memang merupakan potensi utama Gorontalo.Dok. /ANINGTIAS JATMIKA Risna Tamrin Hasan, pemilik Bilal Mekar Snack. Pada 2015, lahirlah produk abon tuna Bilal Mekar Snack yang kemudian berkembang menjadi berbagai varian sambal dan makanan siap saji.“Strategi saya sederhana, yakni belajar, konsisten, dan memantaskan diri,” ujarnya.Fokus pada kualitas dan keberlanjutanPada 2018, Risna resmi menjadi UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo. Sejak itu, ia mendapat berbagai pelatihan, mulai dari sertifikasi halal, izin BPOM, manajemen keuangan melalui aplikasi SIAPIK, hingga pendampingan promosi digital.“BI bukan hanya kasih pelatihan, melainkan juga mendampingi dari nol. Sekarang, produk kami sudah masuk ke 70 gerai minimarket dan aktif di Shopee,” katanya.Produk unggulannya, abon tuna original, bahkan pernah menjadi camilan tamu VVIP di Hotel Raffles Jakarta. Pada 2024, ia juga mengikuti business matching dengan pembeli dari Singapura. Produknya juga nyaris menembus pasar Filipina sebelum pandemi.Kini Bilal Mekar Snack memiliki empat varian abon, yakni original, pedas, kari, dan iloni khas Gorontalo, serta aneka sambal (sagela), tuna, dan cakalang. Ada pula panada tore yang merupakan camilan khas Gorontalo. Produknya menjawab tren masyarakat modern yang lebih menyukai makanan siap saji.“Kalau dulu orang masak itu (karena) hemat, sekarang (orang pilih) beli makanan siap saji (karena) lebih praktis,” ujarnya sambil tersenyum.Dari omzet Rp 12.000 per hari saat menjual kue cucur, kini ia menikmati omzet hingga Rp 100 juta per bulan. Ia juga mempekerjakan lima karyawan tetap dan beberapa siswa magang, serta bekerja sama dengan pengusaha ikan lokal untuk menjaga kualitas bahan baku.Pilar ekonomi inklusifKepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Bambang Satya Permana menyebut, saat ini, terdapat 118 UMKM binaan aktif di wilayahnya.Jumlahnya memang tidak banyak dibandingkan total UMKM di Gorontalo yang mencapai lebih dari 100.000. Namun, BI mengutamakan pendampingan berkualitas dan berkelanjutan.“Kami tidak ingin sekadar banyak, tapi ingin mereka benar-benar naik kelas dan menjadi contoh bagi pelaku lain,” ujar ketika ditemui di Olaku Gorontalo—Galeri UMKM binaan BI di Kota Gorontalo, Rabu .Pendampingan dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari pembentukan kelembagaan, peningkatan kapasitas produksi, penguatan manajemen keuangan, hingga perluasan pasar.Perlu diketahui, lebih dari 80 persen binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi daerah bisa tumbuh secara inklusif dan berkeadilan gender.Transformasi UMKM seperti yang dilakoni Isnawati dan Risna juga berjalan beriringan dengan upaya digitalisasi sistem pembayaran di Gorontalo.Bank Indonesia secara aktif mendorong implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD). Inisiatif ini sejalan dengan arah kebijakan nasional untuk memperkuat ekonomi digital yang efisien, transparan, dan akuntabel.“Digitalisasi sistem pembayaran menjadi fondasi penting ekonomi daerah yang inklusif. Ketika transaksi pemerintah dan masyarakat dilakukan secara digital, roda ekonomi akan bergerak lebih cepat dan efisien,” jelas Bambang.Ia tak menampik bahwa tantangannya tak ringan. Tingkat literasi digital yang berbeda antarwilayah dan keterbatasan jaringan di pelosok masih menjadi kendala.Oleh karena itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo mengedepankan sinergi dengan pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota agar digitalisasi bisa berjalan merata.Bentuk nyata sinergi itu terlihat dalam pelaksanaan QRIS Jelajah Budaya Indonesia 2025 yang digelar di Kabupaten Bone Bolango untuk wilayah Gorontalo. Acara ini menjadi kampanye unggulan Bank Indonesia yang menggabungkan edukasi pembayaran digital dengan promosi wisata daerah.Dok. /ANINGTIAS JATMIKA Penggunaan QRIS di Wisata Hiu Paus Botubarani Gorontalo. Melalui kegiatan itu, wisatawan dan pelaku usaha di destinasi unggulan, seperti Wisata Hiu Paus Botubarani, kini dapat bertransaksi dengan QRIS, mulai dari pembelian tiket hingga suvenir dan kuliner lokal.“QRIS bukan sekadar alat bayar, melainkan juga simbol perubahan perilaku ekonomi. Dengan transaksi digital, sektor pariwisata dan UMKM lokal bisa berkembang lebih cepat,” jelas Bambang.Bangun ekosistem digital dari akar rumputUntuk memperkuat adopsi digital di berbagai sektor, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo juga menggelar program Sahabat Bersinar yang menyasar pelajar dan mahasiswa agar terbiasa menggunakan QRIS dan BI-Fast sejak dini.Selain itu, BI menggandeng komunitas dan pelaku wisata untuk mengedukasi manfaat transaksi digital, seperti di kawasan Wisata Hiu Paus Botubarani.Bagi UMKM seperti Isnawati dan Risna, digitalisasi menjadi katalis pertumbuhan. Isnawati menerima pembayaran dan pesanan dari luar daerah sepenuhnya secara digital. Sementara itu, Risna mengelola transaksi antarplatform dengan pencatatan otomatis.“Sekarang lebih praktis pakai QRIS atau BI-Fast. Aman dan langsung tercatat,” kata Risna.Dari kain karawo hingga abon tuna, dari desa ke berbagai wilayah, dari transaksi tunai ke QRIS, semua berawal dari kemauan untuk beradaptasi.Isnawati dan Risna membuktikan bahwa inovasi, digitalisasi, dan keberlanjutan bisa tumbuh seiring tanpa meninggalkan akar budaya daerah.“Perekonomian yang inklusif tidak bisa hanya digerakkan dari pusat. Harus dimulai dari daerah, dari pelaku kecil, dari tangan-tangan kreatif seperti mereka,” ujar Bambang.Dengan semangat Go Digital, Go Export, Go Green, UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo kini menjadi salah satu contoh transformasi ekonomi berkelanjutan di Indonesia Timur. Di sini, tradisi, teknologi, dan semangat perempuan pelaku UMKM menyatu membangun masa depan yang lebih tangguh.


(prf/ega)