Seberapa Solid Aliansi Nuklir Iran dan Rusia?

2026-01-14 18:45:17
Seberapa Solid Aliansi Nuklir Iran dan Rusia?
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada 20 November mengeluarkan resolusi yang mendesak Iran untuk bekerja sama secara "penuh dan segera". Salah satu fokus utama IAEA adalah kejelasan nasib sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, yang hingga kini masih dirahasiakan.Sejak perang dua belas hari antara Israel/Amerika Serikat dan Iran pada Juni lalu, Teheran menutup akses bagi para inspektur IAEA ke semua fasilitas yang jadi sasaran serangan udara. Ketegangan pun berlarut.Di tengah kebuntuan tersebut, Moskow justru memperluas kerja sama nuklir dengan Teheran. "Kerja sama kami telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Duta Besar Rusia untuk Iran, Alexei Dedow, pertengahan November lalu. Kepada kantor berita Iran, ISNA, Dedow menegaskan bahwa Rusia akan terus mendukung Iran dalam mencari solusi atas persoalan program nuklirnya.Kerja sama antara kedua negara sudah direalisasikan sejak akhir September. Moskow dan Teheran menandatangani nota kesepahaman untuk pembangunan sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir. Badan energi atom Rusia, Rosatom, juga mengikat kontrak senilai 25 miliar dolar Amerika dengan perusahaan Iran, Iran Hormoz, untuk membangun empat pembangkit nuklir baru di Iran."Rusia adalah mitra internasional terpenting bagi program nuklir Iran," kata pakar Timur Tengah David Jalilvand kepada DW. Jalilvand memimpin Orient Matters, konsultan riset di Berlin yang menyoroti persimpangan geopolitik, ekonomi, dan energi di Iran serta Timur Tengah. Namun dia menambahkan, "untuk pengembangan lebih lanjut program nuklir Iran, Moskow sejauh ini lebih banyak berjanji ketimbang mewujudkan."Dia mengingatkan, sejak 2016 pembangunan reaktor kedua di Bushehr diumumkan, hingga kini proyeknya tak kunjung terealisasi. Dia pun meragukan realisasi cepat nota kesepahaman terbaru. "Rusia nyaris tak punya kepentingan memperkuat posisi strategis Iran di Timur Tengah, terutama karena relasinya dengan Israel, negara-negara Teluk, dan Turki."Dalam perang dua belas hari terakhir, Iran nyaris tak mendapat sokongan berarti dari Moskow. Padahal, awal tahun ini kedua negara telah meneken perjanjian kemitraan strategis yang mencakup kerja sama militer dan ekonomi selama dua dekade.Iran sebelumnya memasok drone dan senjata untuk perang Rusia melawan Ukraina. Langkah ini menjadikan Iran sebagai salah satu pendukung utama inveasi Rusia, sekaligus merusak hubungannya dengan Eropa. Sebagai imbalan, Teheran memesan pesawat tempur Sukhoi Su-35 guna memodernisasi angkatan udaranya. Namun hingga pecah konflik dengan Israel, pesawat-pesawat itu belum juga dikirim. Perang tersebut justru menyingkap rapuhnya pertahanan udara Iran."Perjanjian strategis dengan Rusia terbukti cuma sandiwara," ujar Mohammad Sadr, anggota Dewan Penjaga Kepentingan Sistem, dalam pernyataan berbahasa Persia. Menurutnya, Rusia tidak bisa dipercaya. "Mengira Moskow akan membela kita atau berhadapan dengan Amerika Serikat adalah absurditas." Sadr bahkan menuding Rusia membocorkan informasi tentang pusat-pusat pertahanan Iran kepada Israel.Pandangan serupa mengemuka di masyarakat Iran. Seorang profesor universitas di Teheran mengatakan kepada DW, "Orang-orang tahu Rusia akan meninggalkan Iran di saat-saat krusial. Banyak yang percaya pemerintah hanya berpaut pada Moskow demi mempertahankan kekuasaan, bukan demi kepentingan rakyat."Meski mendapat pengalaman pahit, kalangan konservatif di Iran justru mendorong agar kerja sama dengan Rusia diperdalam. "Pengaruh Rusia di kantung-kantung kekuasaan Iran tak terbantahkan," kata Afshar Soleimani, mantan Duta Besar Iran untuk Azerbaijan.Menurutnya, faksi konservatif giat mendukung Rusia, mendorong ekspor drone ke Moskow, serta menghembuskan ketegangan dengan Amerika Serikat. "Selama arus politik ini berkuasa, tak banyak yang akan berubah—dan rakyatlah yang menanggung dampaknya."Kamran Ghazanfari, anggota konservatif Komisi Dalam Negeri parlemen Iran, bahkan mengklaim mantan Presiden Rusia Dmitri Medvedev pernah menyatakan kesiapan Moskow untuk memasok senjata nuklir kepada Iran. Klaim ini diragukan para ahli."Itu sangat tidak mungkin," ujar Jalilvand. "Rusia tidak berkepentingan menambah jumlah negara pemilik senjata nuklir di Timur Tengah yang sudah rapuh." Ia menilai Moskow mungkin saja memasok teknologi yang secara teori bisa dimanfaatkan untuk program militer. Namun dukungan langsung untuk pembuatan bom atom nyaris mustahil.Bagi Rusia, "kartu Iran" lebih sering dipakai sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Meski Iran mengklaim telah menghentikan sementara pengayaan uranium, belum jelas apakah Moskow mampu—atau mau—mendorong Teheran mengurangi cadangan uraniumnya."Rusia berkali-kali memosisikan diri sebagai mediator," kata Jalilvand. "Namun itu bukan karena ingin menyelesaikan konflik nuklir. Di tengah perang Ukraina, Moskow lebih ingin tampil sebagai mitra 'konstruktif' di mata Washington, sambil sekaligus menebar jarak antara Amerika Serikat dan Eropa."Kontributor: Danyal BabayaniDiadaptasi dari bahasa Jerman oleh Rizki NugrahaEditor: Yuniman FaridSimak juga Video Khamenei soal Trump Klaim Hancurkan Nuklir Iran: Teruslah Bermimpi![Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-14 18:02