Polda NTT Pastikan Polisi yang Anianya Warga Sikka Diproses Tanpa Kompromi

2026-01-16 21:02:55
Polda NTT Pastikan Polisi yang Anianya Warga Sikka Diproses Tanpa Kompromi
SIKKA, - Polda NTT memastikan anggota polisi yang melakukan penganiayaan terhadap Hartina (29) warga Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, diproses tanpa pandang bulu.Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra menilai tindakan pelaku sangat mencederai institusi.Henry menegaskan Polri tidak akan menutupi kesalahan anggota. Ditambah lagi, Bripka F dalam kondisi mabuk minuman keras.“Kami pastikan, setiap anggota yang melanggar, apalagi dalam kondisi mabuk dan melakukan kekerasan, diproses tegas tanpa kompromi," ujar Henry saat dihubungi, Selasa .Baca juga: Pengakuan Hartina yang Dianiaya Polisi di Sikka NTT: Dia Pukul Saya Pakai SenapanIa menekankan bahwa Polri hadir sebagai pelindung dan pengayom, bukan menyakiti masyarakat.Henry mengapresiasi keberanian korban yang melaporkan kasus tersebut.Hartina diketahui telah mengajukan pengaduan melalui aplikasi resmi Propam Polri dengan kode pengaduan D3GM30NO.“Polda NTT sangat mengapresiasi keberanian masyarakat untuk melapor. Setiap laporan pasti ditindaklanjuti sesuai ketentuan,” katanya.Henry berharap masyarakat tidak ragu melapor jika mendapati anggota Polri yang melakukan pelanggaran.Pihaknya ingin membangun Polri yang humanis, transparan dan dipercaya.Baca juga: Polisi Penganiaya Warga di Sikka NTT Ditahan di Tempat KhususDiberitakan sebelumnya, penganiayaan terjadi di rumah korban pada Minggu .Propam Polres Sikka kemudian bergerak ke lokasi setelah menerima laporan dari korban.Saat diamankan, Bripka F dalam kondisi mabuk minuman keras (miras).Pelaku membawa senjata laras panjang jenis SS1 dan memukul korban menggunakan popor senjata hingga menyebabkan luka memar pada jari tengah korban.Pelaku juga sempat menyerang saudara laki-laki korban serta merusak pintu rumah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-16 20:26