Aksi Iklim dari Desa, 100 Kampung di Sumsel Siap Jadi Model Ekonomi Hijau

2026-02-05 09:06:52
Aksi Iklim dari Desa, 100 Kampung di Sumsel Siap Jadi Model Ekonomi Hijau
JAKARTA, — Upaya memperkuat aksi iklim sekaligus membangun ekonomi hijau berbasis desa terus digencarkan. Melalui program kolaboratif antara United Nations Office for Project Services (UNOPS) dan Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebanyak 100 desa di Provinsi Sumatera Selatan ditetapkan sebagai lokasi pendampingan Program Kampung Iklim (Proklim).Program ini berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat desa dalam mengelola sumber daya alam, memperkuat ketahanan pangan, dan mengembangkan ekonomi lokal yang ramah lingkungan. Pendampingan dilakukan dengan dukungan teknis dari PT Sucofindo (Persero) sebagai mitra strategis.Direktur Layanan Industri PT Sucofindo (Persero), Budi Utomo, mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan kebijakan nasional menghadapi perubahan iklim.“Keberlanjutan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui kerja sama ini, kami ingin memperkuat aksi iklim dari desa-desa sehingga dampaknya lebih nyata dan inklusif,” ujar Budi di Jakarta, melalui keterangannya, Rabu .Baca juga: Dorong Ekonomi Hijau, Grab Akselerasi Startup Ia berharap 100 desa dampingan tersebut dapat menjadi model ekonomi rendah karbon yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.Sementara itu, Senior Officer UNOPS Siti Maskurotul Ainia menilai kerja sama ini menjadi contoh bagaimana sinergi antarlembaga dapat mempercepat pencapaian target iklim nasional.“Kolaborasi antara UNOPS dan Sucofindo menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis desa mampu menghasilkan solusi yang sesuai kebutuhan lokal, sekaligus mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) dan Net Zero Emission 2060,” kata Siti.Pelaksanaan program ini akan dijalankan oleh Sucofindo Cabang Palembang dengan pendekatan terintegrasi, memadukan teknologi, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat.Baca juga: Blibli Tiket Gelar Gerakan Kolektif Menuju Ekonomi Hijau yang AplikatifKepala Cabang Sucofindo Palembang, Andhies Arman, menambahkan, kegiatan pendampingan akan fokus pada lima bidang utama.“Kami fokus pada layanan informasi iklim dan peringatan dini, penguatan nilai ekonomi dan digital marketing, pengelolaan sumber daya dan sampah, pertanian adaptif dan agroforestry, serta gender dan inklusi sosial,” ujar Andhies.Kelima fokus tersebut, lanjutnya, disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi desa di Sumatera Selatan yang rentan terhadap banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta degradasi lingkungan.“Harapan kami, desa-desa dampingan ini dapat menjadi contoh pengelolaan sumber daya yang tangguh dan berkelanjutan,” tutup Andhies.Baca juga: Gerakkan Ekonomi Hijau, BSI dan PLN Hadirkan SPKLU dan Reverse Vending Machine


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

YouTube menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat Take a Break dan Bedtime yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.Pengingat Take a Break adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan Bedtime adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua.Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.Ini merupakan tambahan dari hal lain yang sudah kami miliki yaitu pengingat 'Taking a Break' dan 'Bedtime', tutur Graham.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Main HP Sebelum Tidur, Ini Dampaknya Dok. Freepik/Freepik Orangtua bisa gunakan fitur Shorts Daily Time Limit agar anak tidak lupa waktu menonton YouTube Shorts. Terkait fitur pembatasan durasi menjelajah feed YouTube Shorts, Graham mengatakan, hal ini bisa membantu anak memahami regulasi waktu penggunaan platform digital mereka.Jadi, ketika anak-anak scrolling Shorts, aplikasi akan 'menyundul' mereka (memberi notifikasi), yaitu intervensi kecil yang menurut pakar perkembangan anak penting dalam pengaturan diri anak-anak, tutur dia.Anak-anak tetap diizinkan untuk memegang kendali akan akun YouTube untuk mengakses feed YouTube Shorts, tapi mereka tidak akan lupa waktu seperti sebelumnya.Melalui fitur Shorts Daily Time Limit yang sudah diatur oleh orangtua, anak jadi paham bahwa mereka hanya boleh mengakses YouTube Shorts berapa lama, sehingga lambat laun sudah terbiasa dan dengan sendirinya bisa mengatur waktu mereka di YouTube.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Main HP, Ini Kata Psikolog

| 2026-02-05 09:24