Kisah Petugas Damkar Pamekasan, Kerap Dicaci hingga Bertaruh Nyawa

2026-01-13 06:30:43
Kisah Petugas Damkar Pamekasan, Kerap Dicaci hingga Bertaruh Nyawa
PAMEKASAN, - Tak mengenal lelah, dan siaga siang dan malam. Menerima cacian hingga nyawa pun jadi taruhannya saat melaksanakan tugas sudah biasa, itulah keseharian petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) di Kabupaten Pamekasan, Selasa .Penanggung Jawab Pengendali Lapangan (Padal) Regu 01 Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP dan Damkar Pamekasan Supardi mengaku sudah ikhlas dalam bertugas meski banyak rintangan dan tantangan."Saat bertugas kami tidak mengenal takut apapun. Soal keselamatan kami nomor duakan," tutur Supardi.Baca juga: Laporan Datang Siang dan Malam, Damkar Sumenep Bertahan dengan Sarana SeadanyaDia bercerita, di tengah fasilitas yang minim, petugas damkar selalu tetap berusaha melakukan pertolongan.Ketika kebakaran di dalam gudang atau gedung, petugas damkar Pamekasan selalu merasa sesak. Karena mereka belum memiliki alat pelindung pernapasan atau Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA).Rasa sesak selalu dirasakan tim Damkar. Karena asap lebih berbahaya daripada api bagi petugas damkar.."Kami merasa sesak saat memadamkan api besar. Kalau tidak hati-hati bisa mengancam nyawa kami," tuturnya.Baca juga: Radiator Bocor dan Kerap Mogok, Mobil Damkar Bangkalan Berusia 39 Tahun Masih Dipakai Herwanto juga bercerita, satu diantara anggotanya pernah digigit kera liar. Saat itu perlengkapan belum memadai.Salah satu urat saraf di tubuhnya terkena gigitan kera liar. Sehingga perlu menjalani 3 bulan masa penyembuhan."Orangnya sudah pulih sekarang. Berbulan-bulan dirawat akibat mengalami masalah pada urat setelah digigit kera liar," katanya.Padal Regu 3 Damkar Pamekasan Supardi juga menyampaikan suka dukanya saat bertugas. Terutama adanya cacian dari masyarakat di lokasi kebakaran."Sering warga mencaci kami saat bertugas. Padahal kami sudah melakukan secara maksimal. Tapi memang kadang tetap disalahkan," katanya.Baca juga: Beban Kerja Berat, Gaji Minim, Personel Kurang: Potret Damkar Samarinda Hari IniBahkan, lanjut Supardi, saat terjadi kebakaran ada warga yang berusaha merebut ujung selang dari petugas damkar."Kami tidak memberikan selangnya saat itu. Kami tetap berfikir positif. Mungkin mereka dalam kondisi panik," ucapnya.Dikatakan, semua regu pernah mengalami cacian dari oknum warga. Padahal rata-rata korban kebakaran justru merasa terbantu.Meski begitu, petugas damkar tidak pernah merespon ketika ada warga mencaci bahkan marah."Kami lebih fokus bagaimana api segera padam. Kami berharap suatu saat mereka tahu kalau kami sudah maksimal untuk membantu masyarakat," ucap Supardi.Dia menambahkan, masih ada beberapa fasilitas yang belum dimiliki tim damkar. Salah satunya SCBA yang dianggap sangat penting saat bertugas."Saat kebakaran di dalam ruangan, terutama gedung dan gudang cukup membahayakan petugas. Karena asapnya lebih berbahaya," imbuhnya.


(prf/ega)