TNI Kerahkan 89 Alutsista untuk Tangani Bencana Banjir Sumatera

2026-01-13 11:44:32
TNI Kerahkan 89 Alutsista untuk Tangani Bencana Banjir Sumatera
JAKARTA, – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan, TNI mengerahkan 89 unit alat utama sistem senjata (alutsista) untuk mendukung penanganan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Alutsista tersebut terdiri dari pesawat, helikopter, hingga kapal perang Republik Indonesia (KRI) yang difungsikan untuk distribusi logistik, evakuasi, dan dukungan medis.“Selanjutnya pengerahan alutsista TNI menggelar 89 unit terdiri dari pesawat, kemudian heli dan KRI,” ujar Agus dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Penanganan Pascabencana di Posko Terpadu Lanud Halim Perdanakusuma, Senin .Baca juga: TNI Telah Distribusikan 2.699,53 Ton Logistik ke Wilayah Banjir SumateraIa mengatakan, hingga saat ini alutsista TNI tersebut terus digunakan untuk mendukung penyaluran bantuan ke wilayah terdampak.“Sampai dengan saat ini terus melakukan dukungan bantuan logistik melalui airdrop ataupun airlanded,” ucap Agus.Selain itu, Agus menyebut KRI juga membawa berbagai dukungan lain, baik peralatan maupun sumber daya manusia, untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak.“KRI membawa dukungan alat berat, kendaraan kesehatan, mendukung membawa juga nakes dan membantu kebutuhan lain seperti peralatan PLN, bahan pangan, genset, dan sebagainya,” kata dia.Baca juga: Panglima TNI Sebut 32 Jembatan Bailey di Sumatera Sudah DigunakanDalam kesempatan yang sama, Agus mengungkapkan, TNI juga telah mendistribusikan 2.699,53 ton logistik untuk penanganan pascabencana di tiga provinsi tersebut.Distribusi logistik dilakukan melalui jalur udara, laut, dan darat guna memastikan bantuan menjangkau seluruh wilayah terdampak.“Adapun logistik yang sudah didistribusikan sejumlah 2.699,53 ton yaitu melalui angkatan udara, dan airdrop dan melalui KRI dan kapal ADRI dan bantuan melalui jalur darat,” kata Agus.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-13 11:36