Potensi Besar, Modal Seret: Petani Rumput Laut Karimunjawa Masih Bergantung Pengepul

2026-01-12 07:07:25
Potensi Besar, Modal Seret: Petani Rumput Laut Karimunjawa Masih Bergantung Pengepul
JEPARA, - Di bawah langit biru kepulauan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, roda perekonomian masyarakat bergulir perlahan.Salah satunya adalah pengembangan budidaya rumput laut yang membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat pesisir setempat dengan peningkatan potensi kesejahteraan melalui pengembangan usaha yang berkelanjutan.Pemerintah Kabupaten Jepara bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) aktif mendukung pengembangan ini pada tahun 2025 dengan memaksimalkan lahan hingga 5.150 hektar serta menyediakan bibit rumput laut berkualitas dan fasilitas pendukung seperti kebun starter dan hilirisasi industri.Permintaan rumput laut dari beberapa wilayah terus meningkat, namun pembudidaya rumput laut di Karimunjawa, Jepara, masih bergelut dengan keterbatasan modal yang menjadi kendala utama dalam meningkatkan produksi.Athok (38), Ketua Kelompok “Hasil Lancar” sekaligus pengepul rumput laut di Desa Kemujan, Karimunjawa, menjelaskan bahwa permintaan atas rumput laut di Karimunjawa tinggi dikarenakan kualitasnya mampu bersaing dengan pasar nasional.“Hasil rumput laut di sini mampu bersaing dengan yang terbaik seperti di Nusa Tenggara. Kalau di Jawa Tengah, kita yang terbaik. Ukurannya dinilai dari kebersihan ekosistem dan kandungan alginat atau kekenyalan,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com pada Selasa, .Baca juga: Petani Rumput Laut Sumenep Terpuruk, Pemkab Tak Punya Anggaran hingga 2026Athok menjelaskan bahwa musim baratan menjadi waktu paling efektif untuk budidaya, karena pada musim hujan, proses pengeringan rumput laut sering terganggu akibat cuaca lembap.“Rata-rata panen rumput laut mencapai dua ton per hari pada musim normal dan bisa sampai lima ton saat musim puncak, dengan frekuensi panen dua hingga tiga kali sebulan,” ungkapnya.Setelah proses pengeringan, rumput laut dikirim ke Surabaya menggunakan truk, yang merupakan bagian penting dalam rantai pasok agar usaha pembudidaya tetap berjalan.Namun, Athok mengeluhkan sarana modal untuk memperbesar kapasitas produksi agar bisa bersaing di pasar nasional.“Kebanyakan petani rumput laut masih mengandalkan modal dari pengepul karena sulit mengakses pinjaman secara langsung,” kata Athok dengan keluh.Baca juga: Resmikan Pabrik PT Formosa di Jepara, Gubernur Jateng Dorong Penyerapan Tenaga Kerja LokalDok.Kamaruddin. Ilustrasi Para petani rumput laut saat berangkat panenMas'ud Dwi Wijayanto, Kepala Petinggi Desa Kemujan, menjelaskan upaya desa untuk mengusahakan bantuan seperti bibit, alat, dan lain-lain.“Anggaran kami dibagi menjadi dua fokus, tahun ini pemberdayaan petani rumput laut, tahun depan nelayan-nelayan kecil,” ungkapnya.Namun, Mas’ud menambahkan bahwa ada beberapa kendala, seperti beberapa warga yang tidak tergabung dalam kelompok tani maupun nelayan.“Secara aturan, kami tidak memberikan langsung kepada warga, harus melewati kelompok-kelompok nelayan dan petani, sehingga bagi warga yang belum mendapatkan bantuan, kami dorong untuk membentuk kelompok-kelompok baru,” tambahnya.


(prf/ega)