Menhut Siap Evaluasi-Investigasi soal Bencana Sumatera Usai Masa Tanggap Bencana

2026-02-05 14:24:31
Menhut Siap Evaluasi-Investigasi soal Bencana Sumatera Usai Masa Tanggap Bencana
JAKARTA, - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah evakuasi korban, pembukaan akses, pemulihan awal wilayah terdampak, hingga pemulihan psikologis para penyintas, terutama anak-anak.Raja Juli memastikan dirinya terbuka untuk kritik, evaluasi, dan investigasi terkait kejadian bencana longsor dan banjir di Sumatera pada tahun 2025 ini.“Kita fokus dulu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi hari ini," saat meninjau lokasi banjir dan longsor di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Minggu , dikutip dari siaran pers.Baca juga: Menhut: Banjir dan Longsor di Sumatera Jadi Momentum Perbaiki Tata Kelola Hutan"Setelah masa tanggap darurat ini selesai, tentu saya sangat terbuka untuk evaluasi, kritik, investigasi apapun. Tapi sekali lagi, kita coba fokus dulu menyelesaikan apa yang dialami oleh rakyat ini secara bersama-sama,” ujar dia.Raja Juli menyampaikan bahwa turunnya pemerintah pusat ke lokasi adalah bentuk kehadiran mereka dalam masa tanggap darurat.Dia pun menyusuri area terdampak untuk memastikan proses evakuasi korban dan penyaluran bantuan berjalan maksimal.Baca juga: Menhut Raja Juli Janji Evaluasi Total Tata Kelola Hutan Usai Banjir Beruntun di SumateraPada kunjungan tersebut, Raja Juli turut memantau proses evakuasi dua jenazah korban yang baru ditemukan.Menhut menyampaikan belasungkawa mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat di Agam dan daerah terdampak lainnya.“Kami atas nama pribadi maupun atas nama pemerintah mengucapkan belasungkawa sebesar-besarnya atas musibah yang kita hadapi bersama pada saat ini. Innalillahi wa innailaihi rojiun,” tuturnya.Baca juga: Apa Itu Bencana Nasional? Pahami Pengertian dan Kriteria Penetapannya“Barusan saja saya bersama Kapolda Sumbar, Riau, dan TNI, mengevakuasi 2 jenazah, dua korban meninggal. Dan saya kira hari-hari ini masih yang jadi fokus utama kita, melakukan tanggap darurat,” sambung Raja Juli.Lalu, ketika meninjau posko pengungsian, Raja Juli berbincang dengan sejumlah korban, termasuk seorang ibu yang bercerita masih kehilangan adik kandung dan keponakannya.Raja Juli lantas memastikan bahwa kondisi warga menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk mempercepat penanganan, sekaligus memastikan seluruh korban terdata serta tertangani dengan baik.Baca juga: Komunikasi Krisis: Kunci Mitigasi dan Keselamatan di Tengah Bencana“Kami terus berkoordinasi dengan TNI–Polri untuk menyelesaikan dulu tahap tanggap darurat ini. Bantuan alhamdulillah sudah banyak masuk. Tadi ada Pak Sekda, beberapa tempat masih banyak terisolir, kita data lagi, ada alat berat kita arahkan ke tempat yang terisolir tersebut,” jelas Raja Juli.Sementara itu, Kementerian Kehutanan dan Polda Riau turut memberikan bantuan bagi korban bencana alam di Provinsi Sumbar, seperti sembako, air, selimut, pakaian layak pakai, hingga alat-alat untuk menunjang evakuasi.Pada Sabtu kemarin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa atas bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 303 orang, sedangkan 279 orang lainnya masih hilang.Baca juga: Ada Atau Tidaknya Status Bencana Nasional, TNI AD Tegaskan Tetap “All Out” di LapanganPakar geospasial ITB Dr Heri Andreas menilai kerusakan lingkungan, perubahan tutupan lahan, dan menurunnya kapasitas tampung wilayah memperburuk dampak banjir yang disebabkan curah hujan ekstrem."Saat presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah," kata Heri.Heri menyebut kawasan dengan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki serapan air jauh lebih tinggi dibanding wilayah yang berubah menjadi permukiman atau perkebunan."Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir," ujarnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-05 12:45