Pedagang Pasar Asemka Sepi Pembeli, Kini Bertahan Lewat Jualan Online

2026-01-15 16:19:58
Pedagang Pasar Asemka Sepi Pembeli, Kini Bertahan Lewat Jualan Online
JAKARTA, - Hiruk-pikuk suasana tawar-menawar yang biasanya menggema di lorong-lorong Pasar Asemka, Tamansari, Jakarta Barat, kini tak lagi terdengar.Menjelang pergantian tahun 2025, salah satu pusat grosir mainan, aksesori, dan suvenir yang legendaris ini justru terlihat sepi dan lesu.Pantauan Kompas.com di lokasi, kios-kios penjual aksesori maupun suvenir terlihat sepi pengunjung.Para pedagang terlihat bersandar di dalam kios sambil memainkan ponselnya, menunggu ada pelanggan yang datang untuk menawar dagangannya.Baca juga: Nasib Pedagang Pasar Loak Menteng, Pendapatan Turun dan Ditinggal PembeliSetiap ada orang yang melintas di lorong, wajah mereka terangkat dan sontak mengganti ekspresinya untuk menyapa dan menjajakan barang dagangannya.Pada beberapa kios, terlihat tumpukan kardus berdampingan dengan barang yang ditampilkan di etalase./Ridho Danu Prasetyo Pedagang mainan anak di Pasar Asemka, Tamansari, Jakarta Barat, Selasa Sementara, di kios lain, para pedagang sibuk melakukan pengemasan untuk dikirim ke kurir daring, meski mereka tak terlihat melayani satu pun pembeli di lapaknya.Para pedagang mengakui adanya penurunan drastis jumlah pengunjung yang datang berbelanja ke Pasar Asemka.Situasi ini memaksa mereka memutar otak, salah satunya dengan menggantungkan nasib pada penjualan daring (online) dan mengikuti tren viral media sosial agar tetap bisa mendapat pemasukan.Aida (33), seorang pedagang tas yang meneruskan usaha orangtuanya, merasakan betul perbedaan atmosfer perdagangan saat ini dibandingkan masa lalu."Ngerasain banget sepi banget. Terutama kayaknya ya dua tahun inilah, dua tahun ini Asemka kayak ya bedalah gitu dari yang sebelum-sebelumnya," ujar Aida saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa .Baca juga: Setengah Abad Berdagang, Fauzy Tetap Bertahan di Pasar Loak Jalan Surabaya yang SepiMenurut Aida, jika dibandingkan dengan masa saat ibunya yang berjualan, kondisi saat ini sangat jauh berbeda.Pengunjung yang datang langsung ke toko fisiknya kini bisa dihitung jari."Kalau dalam sehari yang beli ke toko langsung tuh ya paling 10 kali ya paling banyak gitu. Bahkan kadang enggak nyampe 10 lah, keitung jari. Sisanya ya dari online," ungkap Aida.Sadar bahwa mengandalkan pengunjung pasar tak lagi menjanjikan, Aida mau tidak mau harus beradaptasi dengan teknologi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-01-15 15:43