Kecepatan Internet RI Masih di Bawah Rata-Rata ASEAN, Pemerintah Genjot Akses 100 Mbps

2026-01-12 03:34:52
Kecepatan Internet RI Masih di Bawah Rata-Rata ASEAN, Pemerintah Genjot Akses 100 Mbps
SEMARANG, - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengungkapkan bahwa meskipun penetrasi internet di Indonesia terus meningkat, kualitas layanan dan kecepatan jaringan masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.Untuk itu, pemerintah menargetkan peningkatan kecepatan internet hingga 100 Mbps sebagai bagian dari upaya memperkuat infrastruktur digital nasional.“Saat ini kecepatan kita masih di bawah rata-rata negara ASEAN, yaitu sekitar 36,7 Mbps. Kita mengarah kepada 100 Mbps,” ujar Nezar usai acara Digital Talent War 2025 di Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang, pada Kamis .Baca juga: Menkomdigi: Kecepatan Internet Indonesia Tertinggal dari Kamboja, Tak Bisa DibiarkanMenurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet nasional telah mencapai 80,6 persen, dan jangkauan konektivitas mencakup 97 persen wilayah Indonesia.Namun, kualitas layanan internet masih menjadi tantangan yang harus diatasi.Untuk mempercepat akses internet berkecepatan tinggi, pemerintah baru saja melelang frekuensi 1,4 GHz, yang akan digunakan untuk memperluas jangkauan fixed broadband melalui jaringan 5G dengan teknologi fixed wireless access.“Ini langkah yang bagus untuk memperluas penetrasi di masyarakat sehingga mereka dengan daya beli terbatas tetap bisa menikmati layanan internet berkualitas tinggi. Targetnya, masyarakat bisa mengakses kecepatan 100 Mbps dengan biaya antara Rp100-150 ribu per bulan,” bebernya.Selain fokus pada peningkatan infrastruktur, Nezar juga menekankan pentingnya penguatan regulasi dan literasi digital.Salah satu langkah yang diambil adalah penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Tunas, yang mengatur pembatasan usia bagi anak-anak dalam menggunakan media sosial.Baca juga: Kunker Perdana ke NTT, Menkomdigi Diminta Tingkatkan Kecepatan Internet“PP Tunas ini memastikan anak-anak terlindungi dari konten yang tidak sesuai usia. Kami bekerja sama dengan berbagai platform untuk lebih teliti mengenali pengguna mereka, apakah sudah cukup umur atau belum,” ujarnya.Nezar menambahkan bahwa upaya literasi digital yang telah berjalan selama hampir lima tahun tetap menjadi prioritas pemerintah untuk mengurangi kesenjangan digital di masyarakat.Dengan peningkatan kecepatan internet, perluasan akses, serta regulasi yang melindungi dan mencerdaskan, diharapkan dapat mendukung transformasi digital di Indonesia.


(prf/ega)