Oknum Polisi di Indragiri Hulu Riau Dipecat karena "Nyabu", Kapolres: Tak Ada Toleransi

2026-02-03 21:09:06
Oknum Polisi di Indragiri Hulu Riau Dipecat karena
PEKANBARU, - Seorang anggota polisi di Polres Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Bripka Heru Restu Pratama, dipecat karena memakai narkotika jenis sabu.Pemecatan dilakukan melalui upacara pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) di Mapolres Inhu, Kamis .Kapolres Inhu AKBP Fahrian Saleh Siregar yang memimpin upacara mengatakan hukuman PTDH dijatuhkan karena Bripka Heru terbukti positif memakai sabu berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP-A/14/IV/2025/Propam tanggal 21 April 2025.Bripka Heru dinyatakan melanggar Pasal 13 Ayat satu Huruf A PPRI Nomor satu Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri serta Pasal 13 Huruf E Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor tujuh Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Polri.Baca juga: 2 Polisi Dipecat Usai Tipu Korban Rp 2,6 Miliar, Janjikan Bisa Masuk Akpol, Mengaku Adik Petinggi Polri“Keputusan ini merupakan bentuk konsistensi kami untuk membersihkan institusi dari oknum yang mencoreng marwah kepolisian,” ucap Fahrian kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Kamis.Fahrian menegaskan tidak akan memberikan toleransi kepada anggotanya yang terlibat narkoba.“Tidak ada toleransi bagi anggota Polri yang terlibat penyalahgunaan narkoba. Ini komitmen pimpinan dan institusi,” jelasnya.Ia menambahkan, pemecatan anggota Polri ditandai dengan penyilangan foto Bripka Heru.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-03 20:17