OJK: Pasar Modal RI Tetap Tangguh hingga Akhir 2025 di Tengah Gejolak Global

2026-02-05 04:10:35
OJK: Pasar Modal RI Tetap Tangguh hingga Akhir 2025 di Tengah Gejolak Global
JAKARTA, - Ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu oleh kebijakan moneter dunia, risiko geopolitik, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara utama diklaim belum menggoyahkan fondasi pasar keuangan Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, di tengah tekanan eksternal tersebut, kinerja pasar keuangan nasional justru menunjukkan ketahanan yang kuat dan capaian yang menggembirakan hingga menjelang akhir 2025.Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap, mengatakan stabilitas makroekonomi yang terjaga, serta respons kebijakan domestik yang tepat menjadi faktor utama yang menopang kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia, meski lingkungan global masih penuh ketidakpastian.Baca juga: Kontribusi Industri Asuransi ke PDB Masih Tertinggal dari Perbankan dan Pasar ModalPIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham. “Tapi di tengah kondisi tersebut perekonomian nasional tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Stabilitas makroekonomi serta berbagai kebijakan domestik yang responsif turut menopang kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia,” ujar Eddy saat konferensi pers di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa .Secara khusus, kinerja pasar modal Tanah Air hingga 29 Desember 2025 mencatatkan pertumbuhan yang solid.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sekitar 22,1 persen secara year to date (YTD) dan ditutup di level 8.644,20 pada perdagangan terakhir. Sejalan dengan itu, nilai kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 15.810 triliun atau meningkat sekitar 22,1 persen sepanjang tahun berjalan.Baca juga: Jumlah Investor Pasar Modal RI Tembus 20 Juta, Naik 34,8 Persen“Data saya sampaikan kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan menjelang penutupan tahun 2025. Kalau kita lihat hingga per 29 Desember 2025 kemarin, IHSG tumbuh 22,1 persen secara year-to-date. Yang ditutup adalah 8.644,20 terakhir ya hari kemarin,” paparnya.SHUTTERSTOCK/OK-PRODUCT STUDIO Ilustrasi obligasi. Kinerja positif juga terlihat pada pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di posisi 440,19, atau naik sekitar 12,1 persen secara year to date. Menurutnya, capaian ini mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga di tengah fluktuasi global, sekaligus menunjukkan peran investor domestik yang semakin kuat dalam menopang stabilitas pasar.Dari sisi aktivitas penghimpunan dana, pasar modal Indonesia juga mencatatkan rekor yang melampaui target.Baca juga: Menkeu Purbaya Pede Ekonomi RI Melaju, Utang Terkendali hingga Pasar Modal “To the Moon”Hingga 29 Desember 2025, tercatat 210 aksi penghimpunan dana, termasuk 18 emiten saham baru yang telah memperoleh pernyataan efektif dari OJK. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 268,14 triliun, melampaui target awal sebesar Rp 220 triliun.“Ini menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia terus menguat, meskipun kondisi global tidak sepenuhnya kondusif,” beber Eddy.Pertumbuhan juga terjadi pada skema pendanaan alternatif melalui securities crowdfunding (SCF). Secara akumulatif hingga 23 Desember 2025, penghimpunan dana SCF tercatat mencapai Rp 1,808 triliun dengan melibatkan 971 penerbit.Baca juga: Menkeu Purbaya Sebut Pasar Modal RI Masih To The Moon, Asalkan...OJK menilai tren ini menunjukkan semakin luasnya akses pembiayaan bagi pelaku usaha, khususnya sektor usaha kecil dan menengah.Di industri reksa dana, nilai aset kelolaan atau asset under management (AUM) per 24 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 1.039,71 triliun, meningkat 24,16 persen secara year to date. Aktivitas perdagangan saham harian juga menunjukkan peningkatan signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang 2025 mencapai Rp 18,06 triliun, melonjak sekitar 40,54 persen secara year to date, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata transaksi harian pada 2024 yang berada di kisaran Rp 12,85 triliun.“Sementara kalau kita bicara dari rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2025 yaitu meningkat sebesar 40,54 persen year to date atau sebesar Rp 18,06 triliun. Ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 kemarin yang sebesar Rp 12,85 triliun,” lanjutnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 02:49