Banjir Lahar Semeru, Penambang Pasir Terjebak di Tengah Sungai Regoyo

2026-01-14 06:50:34
Banjir Lahar Semeru, Penambang Pasir Terjebak di Tengah Sungai Regoyo
LUMAJANG, - Banjir lahar hujan Gunung Semeru kembali menerjang aliran Sungai Regoyo di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Minggu .Menurut laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, banjir mulai terekam pukul 13.00 WIB dengan amplitudo maksimal mencapai 45 milimeter.Akibat banjir lahar, seorang penambang pasir terjebak di tengah aliran Sungai Regoyo saat arus banjir sedang deras-derasnya.Baca juga: Gunung Semeru Alami Erupsi 50 Kali Pagi Ini, Letusan Asap Setinggi 1.200 MeterAfan, salah satu warga mengatakan, penambang yang terjebak itu bernama Mail, warga Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.Saat itu, Mail sedang berusaha menepi setelah mendapatkan informasi bahwa ada banjir lahar.Nahas, sebelum bisa keluar dari area sungai, banjir sudah datang dengan arus yang deras.Mail pun bertahan sekuat tenaga di tengah sungai sambil berlindung di balik batu sampai arus banjir surut.Beruntung, Mail tidak sampai terseret meski arus banjir menerjang dengan kencang."Yang terjebak tadi Pak Mail, orang (dusun) Randuan, orangnya selamat langsung pulang," kata Afan di Lumajang, Minggu .Baca juga: Relawan Terseret Banjir Lahar Semeru di Sungai Regoyo Saat Hendak Salurkan BantuanSelain penambang, banjir menyebabkan satu unit truk terjebak di tengah sungai.Beruntung, sopir truk berhasil menyelamatkan diri sebelum banjir menerjang.Ditambah, satu unit ekskavator yang dilaporkan hanyut terbawa derasnya banjir lahar.Belum diketahui apakah dalam ekskavator tersebut ada orangnya.Namun, dugaan warga, ekskavator yang terseret banjir itu sudah terpendam material erupsi Gunung Semeru pada 19 November 2025 lalu.Perangkat Desa Gondoruso, Devi, mengatakan, banjir lahar hujan Gunung Semeru mengakibatkan jalan menuju tiga dusun di Gondoruso dan Kecamatan Tempursari terputus.Warga terpaksa menunggu sampai banjir surut agar bisa melintasi Jembatan Limpas yang menjadi akses satu-satunya untuk menyeberangi Sungai Regoyo."Dampaknya akses terputus karena banjir menutupi jembatan Limpas, sekarang terpaksa menunggu banjir surut," kata Devi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-14 05:44