Menyalakan Harapan di Sekolah Tanpa Listrik dan Berlantai Tanah di Sumba Timur

2026-02-05 04:47:27
Menyalakan Harapan di Sekolah Tanpa Listrik dan Berlantai Tanah di Sumba Timur
WAINGAPU, — Di sebuah dusun terpencil di ujung timur Pulau Sumba, deru sepeda motor tua terdengar lirih memecah kesunyian pagi.Jalan tanah berlubang dan licin setelah diguyur hujan malam sebelumnya menjadi lintasan wajib para guru menuju SD Paralel Lailara, sekolah sederhana di Dusun Kambata Kundurawa, Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).Bagi sebagian orang, jarak 20 kilometer mungkin terasa sepele.Namun bagi guru dan anak-anak di pedalaman ini, jarak itu berarti perjuangan melewati jalan rusak, menyeberangi genangan air, dan bertaruh dengan licinnya lumpur hanya untuk bisa belajar.Baca juga: Dimutasi ke Sekolah Terpencil Sejauh 40 Km, Guru SD Bulukamba: Saya Pernah Jatuh karena Jalan RusakBangunan sekolah berdiri di atas tanah sekitar 12x6 meter. Dindingnya dari bambu cincang, atapnya seng mulai berkarat, dan lantainya tanah yang mudah berubah becek saat hujan.Meski sederhana, dari tempat inilah semangat belajar anak-anak Kambata Kundurawa menyala setiap pagi.“Kursi, meja, dan papan tulis kami pinjam dari SDM Tawakihu. Sebagian sudah rusak, tapi kami perbaiki seadanya agar bisa digunakan anak-anak,” tutur Rambu Emelia Namupraingu, penanggung jawab di SD Inpres Paralel Lailara, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu .Sekolah ini belum memiliki nama resmi. Warga mengenalnya berdasar lokasi berdirinya: SD Paralel Lailara.Baca juga: Sekolah Terpencil di Sidoarjo Masih Menanti Makan Bergizi GratisBerdiri sejak tahun 2010, sekolah ini baru benar-benar menjalankan kegiatan belajar mengajar pada tahun 2025 setelah mendapat pengesahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur.Kini ada 18 siswa menimba ilmu di sana, dibimbing enam guru yang mengajar bergantian. Dua guru yang aktif yakni Rambu Emelia Namupraingu dan Depi Peka Amahu.Dari jumlah itu, 16 siswa sudah terdaftar di Dapodik, sementara dua lainnya masih berstatus murid pendengar. Mereka duduk di kelas satu, namun semangatnya tak kalah dengan anak-anak kota.“Kalau sekolah ini tidak ada, anak-anak harus jalan jauh ke sekolah induk di SDI Lailara. Bisa satu jam lebih kalau jalan kaki,” kata Depi.Anak-anak datang dengan pakaian sederhana dan buku tulis yang dijaga rapi. Tak jarang mereka tanpa alas kaki, tetapi tetap tersenyum saat guru menyapa.Dusun Kambata Kundurawa masih jauh dari layak sebagai lingkungan pendidikan. Tidak ada jaringan listrik, apalagi internet.Saat malam tiba, kegelapan menyelimuti dusun. Para guru tidak memiliki rumah dinas dan harus pulang pergi dari sekolah induk puluhan kilometer jauhnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-05 03:48