Malaysia Bakal Tetapkan Durian atau Nanas sebagai Buah Nasional

2026-02-02 22:25:50
Malaysia Bakal Tetapkan Durian atau Nanas sebagai Buah Nasional
- Belakangan, Malaysia tengah mempertimbangkan secara serius untuk menetapkan buah nasional, dan pilihan utama jatuh pada dua buah tropis yakni durian dan ‎nanas.Pemerintah Malaysia melalui Durian Manufacturer Association (DMA) telah secara resmi mengusulkan durian sebagai buah kebanggaan negara, lengkap dengan ajakan agar tanggal 7 Juli ditetapkan sebagai “Hari Durian Nasional”, melansir The Straits Times.DMA mengusulkan durian sebagai buah nasional Malaysia karena dikenal sebagai “raja buah” di Asia Tenggara dan telah lama menjadi bagian dari budaya dan tradisi lokal.Sementara itu, kelompok pendukung nanas juga menyuarakan aspirasi agar buah tropis ini diakui secara resmi.Mereka menganggap nanas memiliki potensi geografis dan produksi yang lebih besar dan relevansi sebagai buah tropis sangat penting di Malaysia.Baca juga: Keseruan Wisata Edukatif di Tugu Nanas Smart Hill CampWacana Malaysia yang ingin menjadikan durian atau nanas sebagai buah nasional memicu perhatian luas dari negara tetangga, terutama karena kedua buah tersebut juga menjadi komoditas unggulan di kawasan Asia Tenggara.Pemerintah Indonesia menolak keras penetapan buah durian sebagai simbol nasional Malaysia, dengan beranggapan bahwa produksi durian Indonesia pada tahun 2024 mencapai angka yang jauh lebih besar, sehingga lebih pantas diklaim sebagai buah nasional Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai, Indonesia memiliki dasar yang jauh lebih kuat untuk mengklaim durian sebagai buah nasional ketimbang Malaysia.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024, Zulhas menyebutkan bahwa angka produksi buah durian di Indonesia jauh di atas Malaysia.Baca juga: Turis Korea Banyak Batalkan Kunjungan ke ASEAN, Cemas soal Keamanan“Indonesia memproduksi hampir 2 juta ton durian pada 2024 menurut BPS. Angka ini jauh di atas Malaysia. Dengan fakta ini, saya kira durian adalah Buah Nasional Indonesia," ujarnya dilansir Kompas.com.Namun, pihak Malaysia menyatakan setiap negara memiliki kebebasan untuk memilih buah nasional masing-masing.Bagi mereka, durian bukan lebih dari sekadar buah melainkan bagian dari warisan budaya dan identitas nasional. Di sisi lain, dorongan penetapan durian sebagai buah nasional juga sejalan dengan target ekspor buah tropis Malaysia yang terus meningkat.Pemerintah Malaysia baru-baru ini meresmikan pusat ekspor durian, guna mendukung petani kecil dan pasar ekspor global.Hal ini menunjukkan bahwa kampanye buah nasional bukan hanya soal simbol, tetapi juga strategi ekonomi serta promosi agrowisata. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 21:07