Hujan Deras Akibatkan Longsor di Kawasan Puncak Tosari Pasuruan

2026-01-17 08:20:20
Hujan Deras Akibatkan Longsor di Kawasan Puncak Tosari Pasuruan
PASURUAN, - Hujan deras selama beberapa hari di kawasan puncak Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berakibat longsor.Material tanah menutup akses jalan antar desa di wilayah tersebut. Dengan menggunakan alat seadanya, warga secara bertahap meminggirkan material yang menutup jalan.Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi menyebut bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan perangkat Desa Blarang dan Desa Kayukebek, Kecamatan Tosari terkait evakuasi material tanah."Setelah terjadi longsor pada Sabtu, (27 Desember 2025), akses jalan sudah mulai normal, pengendara motor sudah bisa melintas," kata Sugeng, Senin .Baca juga: Angka Perceraian di Pasuruan Naik Capai 2.270 Kasus, Mayoritas Istri Gugat Cerai SuamiSugeng menjelaskan, longsor yang terjadi merupakan tebing yang berada di samping jalan perbatasan antara dua desa, Desa Blarang dan Kayukebek. Material mendadak longsor setelah beberapa hari hujan deras."Lumayan lebar dan panjang yang longsor, namun sudah berhasil dipinggirkan oleh warga dan perangkat desa dua desa setempat," ujarnya.Dia mengatakan, potensi bencana tanah longsor memang kerap terjadi di dua wilayah, yakni Kecamatan Tosari dan Tutur.Pasalnya, menurut dia, dua kecamatan tersebut berada di wilayah pegunungan dan intensitas curah hujan juga tinggi.Sugeng menyebut, kejadian longsor yang menimbulkan korban jiwa yakni di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur pada 5 Desember 2025. Sueb, seorang peternak meninggal setelah tertimbun material longsor saat menyelamatkan sapi di kandang belakang rumahnya."Untuk itu, kami tetap mengimbau warga tetap waspada terhadap bahaya longsor saat hujan deras. Khususnya di kawasan Tutur dan Tosari," kata Sugeng.Baca juga: Pemkot Pasuruan Tetapkan Siaga Bencana 150 Hari, Catat 193 Kejadian Sepanjang 2025


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-17 07:36