Orangtua Resah, Guru Madrasah Terduga Pencabulan 19 Siswa di Jambi Masih Bebas Beraktivitas

2026-01-12 06:49:54
Orangtua Resah, Guru Madrasah Terduga Pencabulan 19 Siswa di Jambi Masih Bebas Beraktivitas
JAMBI, - Orangtua siswi korban dugaan pencabulan oleh kepala madrasah di Kabupaten Merangin, Jambi, mengaku resah karena terduga pelaku masih bebas beraktivitas di kampung halaman.Hal itu disampaikan J, satu di antara orangtua yang telah melapor ke Polres Merangin. Ia mengatakan para orangtua dan siswi korban merasa was-was karena terduga pelaku masih mengikuti kegiatan pengajian."Ini kan korbannya ada yang tetangga dia, jadi kita orangtua dan anak kita yang jadi korban was-was dengan kehadiran dia," kata J saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin .Menurut J, beberapa orangtua korban sempat berupaya mendatangi terduga pelaku. Namun, ia melarang agar tidak terjadi keributan. Ia menilai polisi bekerja lamban karena belum ada perkembangan berarti sejak laporan dibuat.Baca juga: Orangtua Korban Pencabulan Guru Madrasah di Merangin Keluhkan Respons Polisi: Seperti Mengemis Kebenaran"Saya larang orangtua yang lain untuk nemui pelaku, saya bilang kita ikut aturan hukum. Tetapi saat kita ikut aturan, malah lambat sekali, tidak ada perkembangannya," jelas J.Ia berharap polisi segera menahan terduga pelaku agar situasi tidak memicu tindakan warga yang dapat menimbulkan masalah baru."Takutnya kalau orangtua korban ketemu pelaku justru menimbulkan masalah baru, masalah satu belum selesai nambah lagi masalah baru," katanya.Kapolres Merangin AKBP Kiki Firmansyah Efendi belum merespons permintaan konfirmasi yang diajukan Kompas.com.Pelaku yang dilaporkan berinisial S diduga mencabuli 19 siswi madrasah sejak 2003. Modusnya, pelaku mengajak korban menonton video di telepon genggamnya dan menahan siswi tetap berada di kelas ketika murid laki-laki dipulangkan lebih dulu."Jadi, modusnya itu korban dia suruh menghapus papan tulis, mengoreksi tugas. Saat itulah dia meraba bagian-bagian sensitif para korban," kata J.Menurut J, sebagian korban mengaku hanya diajak menonton video di TikTok atau YouTube, namun tidak mengetahui secara jelas jenis video yang diputar.Kasus ini terungkap setelah dua korban pulang dalam keadaan menangis dan bercerita kepada orangtuanya bahwa mereka dicabuli."Ada korban nangis ke orangtuanya, bilang 'jangan marah ya', terus dijawab orangtuanya 'gak akan marah, ada apa', barulah dia cerita bahwa ada guru yang kanji," kata J.Pengakuan ini membuat korban lain saling membuka pengalaman yang mereka alami. Mereka menyebutkan nama-nama siswi lain yang pernah dicabuli."Akhirnya, korban saling buka siapa saja korbannya. Korban pertama bilang 'si A pernah saya lihat dicabulin', jadi terbongkar semuanya," sebut J.Berdasarkan keterangan tersebut, J menanyai anaknya dan mengetahui bahwa anaknya pernah dilecehkan sebanyak dua kali pada 2024.Saat ini enam orang sudah melapor ke Polres Merangin, sementara korban lain disebut akan menyusul. Beberapa korban memilih tidak melapor karena masih memiliki hubungan keluarga dengan pelaku.


(prf/ega)