Bupati Aceh Utara Tembus Seluruh Lokasi Terisolasi, Data Sementara 42.198 Rumah Rusak

2026-02-02 00:31:59
Bupati Aceh Utara Tembus Seluruh Lokasi Terisolasi, Data Sementara 42.198 Rumah Rusak
ACEH UTARA, –  Bupati Aceh Utara, Provinsi Aceh, Ismail A Jalil sudah berhasil menembus seluruh daerah terisolasi paska banjir di Kecamatan Sawang dan Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Senin .Pria yang akrab disapa Ayahwa ini juga memeriksa Desa Gunci, Kecamatan Sawang yang separuh wilayahnya hilang disapur banjir.Untuk menuju lokasi itu bisa menggunakan rakit, karena empat jembatan penghubung seluruhnya hancur dihantam banjir.Baca juga: Instruksikan Anggota Turun ke Dapil, Ketua DPRK Aceh Utara: Jangan Ada Lagi Cerita Tak Ada BantuanBupati juga menyerahkan bantuan untuk keempat kalinya dalam wilayah itu.Sebelumnya bantuan telah disalurkan lewat Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi yang juga berasal dari kecamatan tersebut. “Saat ini kerusakan rumah paling banyak, pendataan terus kita lakukan. Karena ada beberapa kecamatan datanya belum masuk,” terang pria akrab disapa Ayahwa ini.Baca juga: Darurat Bencana Aceh Utara Diperpanjang, Bupati Ayahwa Ancam Copot Camat yang Tidak di LokasiDia menyebutkan data sementara total 42.198 rumah rusak.Dengan rincian rusak berat 16.793 unit, sedang 6.134 unit, rusak ringan 15.126 dan rumah hilang atau hanyut disapu banjir 1.219 unit.“Pekerjaan rumah kita berikutnya, banjir sudah surut. Namun warga terpaksa bertahan di pengungsian, karena rumahnya hilang. Mau pulang kemana, kita bagikan tenda untuk hunian sementara,” pungkasnya.Baca juga: Nekad Tempuh Jalur Bener Meriah-Aceh Utara dalam Sehari Semalam, Berharap Tak Ada Longsor SusulanSebelumnya diberitakan banjir di Kabupaten Aceh Utara dimulai sejak 22 November 2025. Sedangkan kabupaten lainnya di Aceh dimulai sejak 26 November 2025.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 00:16