Mengapa Telur Ayam Fertil Tak Layak Konsumsi? Ini Penjelasan Pakar IPB

2026-01-12 08:33:00
Mengapa Telur Ayam Fertil Tak Layak Konsumsi? Ini Penjelasan Pakar IPB
- Tak banyak yang tahu bahwa tidak semua telur ayam aman untuk dikonsumsi. Sebagian telur yang tampak sama di pasaran ternyata memiliki perbedaan mendasar dalam asal-usul dan fungsinya. Guru Besar Ilmu Ternak Unggas IPB University, Prof. Niken Ulupi, mengingatkan bahwa telur ayam pedaging bibit (fertil) tidak seharusnya dikonsumsi maupun diperjualbelikan di pasar umum.“Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” tegas Prof. Niken, dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University.Baca juga: Beda Telur Ayam Kampung Asli dan Palsu, Jangan Sampai TertipuPerbedaan utama antara telur konsumsi dan telur fertil terletak pada proses pembentukannya.Telur konsumsi yang beredar di pasaran berasal dari ayam petelur komersial, yang seluruhnya adalah betina dan tidak mengalami pembuahan. Artinya, telur konsumsi bersifat infertil dan aman untuk dimakan setelah disimpan dalam kondisi wajar.Sebaliknya, telur fertil dihasilkan oleh ayam betina yang dibuahi oleh pejantan, sehingga mengandung embrio di dalamnya. Menurut Prof. Niken, jenis telur ini membutuhkan penyimpanan bersuhu rendah agar tidak cepat rusak.“Jika dibiarkan pada suhu ruang, embrio dapat berkembang sebagian dan membuat telur cepat busuk,” jelasnya.Baca juga: Mengapa Warna Kulit Telur Ayam Berbeda-beda?Prof. Niken menjelaskan bahwa tujuan pemeliharaan ayam menentukan jenis produk yang dihasilkan.Ada ayam yang dikembangbiakkan untuk menghasilkan telur, dan ada pula yang khusus untuk daging. Karena itulah muncul berbagai galur ayam—baik ras maupun lokal—dengan karakteristik yang berbeda.Ayam petelur komersial dipelihara untuk menghasilkan telur konsumsi setiap hari. Sementara ayam pedaging seperti broiler komersial dipelihara khusus untuk diambil dagingnya dan biasanya hanya hidup sekitar lima minggu sebelum dipotong.“Ayam broiler komersial hanya dipelihara singkat, sekitar lima minggu, lalu dipotong. Jadi ayam pedaging tidak sampai bertelur,” terang Prof. Niken.Berbeda lagi dengan ayam pedaging bibit (breeder broiler). Ayam jenis ini dipelihara untuk menghasilkan telur yang dibuahi—disebut telur fertil—yang nantinya akan ditetaskan menjadi anak ayam broiler. Telur-telur inilah yang tidak diperuntukkan bagi konsumsi manusia.Baca juga: Sejak Kapan Telur Ayam Digunakan Jadi Bahan Makanan?Meskipun kandungan gizi telur fertil, seperti protein dan asam amino esensial, tidak jauh berbeda dari telur konsumsi, kualitas penyimpanannya sangat berbeda. Telur fertil lebih mudah rusak karena di dalamnya terdapat embrio hidup yang sensitif terhadap suhu dan kelembapan.Selain aspek keamanan pangan, Prof. Niken menambahkan bahwa penjualan telur fertil di pasar umum juga bisa mengganggu stabilitas harga telur konsumsi. Pasalnya, telur fertil dari industri pembibitan seharusnya tidak masuk ke rantai perdagangan umum.Baca juga: Apa Itu Bintik Cokelat yang Kadang Ditemukan di Kuning Telur Ayam?Sebagai panduan bagi masyarakat, Prof. Niken memaparkan beberapa cara sederhana untuk mengenali perbedaan telur konsumsi dan telur fertil.Keduanya bisa dibedakan dari:Pengetahuan ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya.“Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya,” pungkas Prof. Niken.Baca juga: Apa Penyebab Warna Kuning Telur Ayam Berbeda-beda?


(prf/ega)