Kemenko PM Pulangkan 27 Warga Jateng-Banten Terdampak Bencana di Aceh

2026-01-13 07:27:26
Kemenko PM Pulangkan 27 Warga Jateng-Banten Terdampak Bencana di Aceh
JAKARTA, - Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) memfasilitasi pemulangan puluhan warga Jawa Tengah (Jateng), Banten, dan Jawa Barat yang berprofesi sebagai tenaga kerja penderes getah pinus yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh.Mereka dipulangkan menggunakan pesawat Hercules A-1343 dari Rembele dan tiba di Halim Perdanakusuma pada Selasa ."Dengan kepulangan 27 warga ini, secara total Kemenko PM telah memfasilitasi kepulangan 119 warga terdampak bencana di Aceh," tutur Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Nunung Nuryartono dalam keterangannya, Selasa.Baca juga: Prabowo Bakal Rayakan Malam Tahun Baru di Aceh Bareng WargaIa mengatakan, upaya pemulangan ini masih kelanjutan arahan Menko PM Muhaimin Iskandar usai mengunjungi Bener Meriah, Aceh."Pemulangan ini sebagai wujud kehadiran negara untuk mempercepat pemulihan masyarakat terdampak bencana," kata dia.Upaya fasilitasi pemulangan ini juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Pemprov Jateng, dan Pemprov Banten."Terdapat total 27 warga terdampak bencana yang dipulangkan. Mereka juga diberikan sejumlah bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka," ucap Nunung.Saat ini, mereka tengah dalam perjalanan menuju kediaman masing-masing dengan menggunakan transportasi darat yang difasilitasi badan penghubung daerah masing-masing.Baca juga: PLN Akui Listrik di Aceh Belum Pulih 100 Persen"Kami memastikan pemberdayaan masyarakat pascabencana akan konsisten dilakukan dengan mengkoordinasikan Pemerintah Daerah dan Kementerian/Lembaga," ucapnya.Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi terciptanya kemiskinan baru yang muncul pascabencana yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh."Masyarakat tidak akan dibiarkan sendirian pasca terdampak bencana. Kemenko PM memastikan Pemerintah akan membantu masyarakat kembali berdaya dan sejahtera," ujarnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-13 06:23