Kala Dark Web jadi Pelarian Korban Bullying di Sekolah

2026-01-15 05:57:51
Kala Dark Web jadi Pelarian Korban Bullying di Sekolah
JAKARTA, - Penetrasi internet di Indonesia yang tinggi di Indonesia, tidak hanya memudahkan akses untuk menggali ilmu pengetahuan yang positif, tetapi juga membuka kotak pandora.Di balik maraknya penggunaan internet dan media sosial oleh anak-anak, ada ancaman nyata yang kini tengah mengintai mereka, yaitu kekerasan, radikalisme, hingga pornografi.Menurut laporan dari National Center For Missing and Exploited Children (NCMEC) Tahun 2024, ada sebanyak 5.566.015 konten kasus pornografi anak di Indonesia selama kurun waktu 2021-2024.Kasus ledakan bom di SMA 72 Jakarta yang diduga dilakukan oleh murid sekolah tersebut, beberapa waktu lalu, telah membuka kacamata bahwa begitu mudahnya "dark web" diakses. Padahal selama ini, situs "dark web" kerap digunakan oleh para pelaku kejahatan untuk mengakses hal-hal buruk. Baca juga: Langkah Baru Pendidikan Korea Selatan: Kampus Mulai Tolak Siswa Pelaku BullyingData Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 89 persen anak berusia 5 tahun ke atas sudah menggunakan internet. Mayoritas, internet tersebut digunakan mengakses sosial media, yang membuat mereka rentan terhadap risiko paparan konten negatif. Ini adalah alarm bagi orang tua.Pemerintah bukannya tidak punya itikad baik untuk melindungi anak-anak dari konten-konten berbahaya yang beredar di dunia maya. Penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) merupakan upaya pemerintah untuk melindungi anak dari paparan konten yang tidak sesuai usia.Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, keseriusan ini membuat Indonesia menjadi negara kedua di dunia setelah Australia, yang menerapkan regulasi penundaan akses anak terhadap platform digital, meski banyak ditentang oleh raksasa digital./ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) Meutya Hafid dalam acara Tech In Asia Conference, Rabu ."Bagi perusahaan-perusahaan ini kita adalah pasar, karena itu tentu ada reaksi ketika pasarnya dipotong," kata Meutya melalui keterangan resmi pada 8 Januari lalu."Saat ini kita masih punya waktu untuk melakukan perbaikan sistem untuk nanti kita akan betul-betul terapkan sanksi. Sanksi ini dikenakan terhadap platform, bukan kepada ibu, bukan kepada anak," tegasnya.Namun di lapangan, beleid itu hanya sebatas euphoria. Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet), Nenden Sekar Arum, menilai sistem moderasi konten di Indonesia masih jauh dari memadai.“Konten moderasi di Indonesia masih bersifat sukarela. Filter konten di medsos misalnya, hanya terbatas menekan fitur 'tidak tertarik', atau menginisiasi buat akun di aplikasi khusus anak (contohnya, YouTube Kids),” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa .Baca juga: Sorot Bullying, Gibran Minta Kejadian seperti di SMAN 72 Jakarta Jangan TerulangEnam bulan pasca aturan itu diterapkan, masih banyak kekosongan substansial dalam melindungi anak-anak dari aktivitas berbahaya di ruang digital, seperti asesmen pengaturan dan pusat laporan kekerasan.Sebaliknya, menurutnya, pemerintah justru terkesan terlalu dalam mengatur privasi seseorang dengan membuat aturan yang "Mewajibkan notifikasi pelacakan di akun anak."Tentu bukanlah hal yang mudah untuk merakit sebuah bom. Perlu waktu berulang-ulang untuk mempelajarinya, termasuk kemungkinan adanya kegagalan yang bisa saja terjadi. Di sinilah algoritma dan echo chamber menunjukkan bahayanya."Algoritma sosmed yang memberikan apa yang pernah diakses bikin anak yang pernah mengakses konten kekerasan bisa terus mendapatkan konten serupa,” ujar Nenden.REUTERS/Willy Kurniawan Personel polisi dan TNI AL berjaga di dekat lokasi ledakan di SMAN 72 Jakarta.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Meski membawa teknologi kamera baru, rumor menyebut jumlah kamera belakang Xiaomi 17 Ultra justru dipangkas menjadi tiga, dari sebelumnya empat kamera pada Xiaomi 15 Ultra.Selain sensor 200 MP, ponsel ini diperkirakan mengusung kamera utama 50 MP serta kamera ultrawide 50 MP.Xiaomi juga dirumorkan bakal menjadi produsen pertama yang menghadirkan Leica APO zoom camera di ponsel. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan warna lebih akurat, detail lebih tinggi, serta performa makro yang lebih baik, termasuk dalam kondisi cahaya rendah.Di luar sektor kamera, Xiaomi 17 Ultra diperkirakan akan ditenagai chipset tercanggih Qualcomm saat ini, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5. Chipset tersebut bakal dipadukan dengan layar OLED berukuran 6,85 inci yang mendukung resolusi tinggi dan refresh rate tinggi.Baca juga: HP Xiaomi Redmi Note 15 Series Meluncur Global, Ini SpesifikasinyaDari sisi daya, ponsel ini dirumorkan mengusung baterai berkapasitas 7.000 mAh, meningkat dari 6.000 mAh pada generasi sebelumnya, dengan dukungan pengisian cepat hingga 100 watt.Soal desain, Xiaomi 17 Ultra disebut tidak banyak berubah dari pendahulunya. Ponsel ini dikabarkan tetap mengusung layar datar tanpa tepi melengkung, serta dilengkapi pemindai sidik jari ultrasonik di bawah layar untuk menunjang keamanan.Setelah debut di China pada pekan depan, Xiaomi 17 Ultra diyakini akan meluncur ke pasar global pada kuartal pertama atau sekitar bulan Januari-Maret 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Android Headlines.

| 2026-01-15 05:41