Sebut Udara Jakarta Paling Tidak Sehat, BMKG: yang Kita Hirup Sehari-hari di Sini

2026-01-12 08:05:59
Sebut Udara Jakarta Paling Tidak Sehat, BMKG: yang Kita Hirup Sehari-hari di Sini
JAKARTA, - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa DKI Jakarta menjadi wilayah yang memiliki udara paling tidak sehat di Indonesia.Jakarta disebut pernah menempati peringkat pertama wilayah dengan udara paling tidak sehat selama 100 hari.Hal tersebut disampaikan Teuku saat rapat bersama Timwas Penanganan Bencana DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu ."Berdasarkan pemantauan dari Particulate Matter 2,5 mikron tahun 2024 di 27 lokasi, menunjukkan variasi kualitas udara dari kategori baik hingga tidak sehat. Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Utara, dan Lampung tercatat memiliki jumlah hari dengan kategori tidak sehat tertinggi," ujar Teuku.Baca juga: UU TNI Digugat Lagi ke MK, Apa yang Dipersoalkan?"Di mana Jakarta menempati peringkat pertama dengan sekitar 100 hari kejadian dengan udara yang tidak sehat, yang kita hirup sehari-hari di sini, Bapak/Ibu," sambung dia.Teuku membeberkan bahwa hingga November 2025 ini, kejadian cuaca ekstrem di Indonesia didominasi oleh hujan lebat dengan persentase 65 persen, angin kencang 27 persen, serta diikuti fenomena puting beliung, petir, dan hujan es.Menurut dia, fenomena hujan es beserta petir itu terjadi dengan frekuensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat."Potensi bencana hidrometeorologi lainnya meliputi iklim ekstrem seperti kekeringan dan penurunan kualitas udara. Peta kekeringan meteorologis tahun 1991 hingga tahun 2020 menunjukkan bahwa banyak wilayah Indonesia rentan terhadap kekeringan dengan peningkatan kejadian hingga 60 persen," beber Teuku.Sementara itu, Teuku turut membuka data mengenai operasi modifikasi cuaca selama tahun 2025.Baca juga: Jenderal Maruli: Tentara Tidak Boleh Berkhianat!Teuku menyebut, tahun ini, mereka telah melancarkan operasi modifikasi cuaca sebanyak 52 hari.Modifikasi cuaca dilakukan untuk menambah curah hujan ataupun menguranginya."Telah kami lakukan 52 hari operasi pelaksanaan modifikasi cuaca tahun 2025 untuk aksi dini hidrometeorologi ekstrem. Beberapa tempat dapat dilihat, sehingga penambahan curah hujan mencapai 73 persen di daerah sekitar Sumatera dan Kalimantan Selatan. Kemudian untuk mengurangi potensi juga dilakukan sekitar DKI Jakarta untuk pengurangan curah hujan sebesar 37 persen," imbuh dia.


(prf/ega)

Berita Lainnya