IESR: RI Belum Siap Transisi Energi karena Lembaga Pembayaran Gelontorkan Dana ke Energi Fosil

2026-02-01 19:29:20
IESR: RI Belum Siap Transisi Energi karena Lembaga Pembayaran Gelontorkan Dana ke Energi Fosil
JAKARTA, - Indonesia dinilai belum siap melakukan transisi energi. Berdasarkan Transition Readiness Framework (TRF), indeks yang dikembangkan Institute for Essential Service Reform (IESR) sejak 2022 untuk mengukur kesiapan kondisi pendukung (enabling environment) transisi energi —, dari segi kebijakan, kepemimpinan, dan investasi Indonesia masih rendah.Bahkan, nilai Indonesia dalam kesiapan kondisi pendukung pada empat dari sebelas faktor tersebut, tidak berubah dari hasil tahun 2024. Transisi energi di Indonesia telah mengalami kemandekan.Baca juga: Indonesia Mundur dalam Transisi Energi, 19 Juta Lapangan Kerja Berpeluang HilangPendanaan untuk energi terbarukan di Indonesia masih minim dan dianggap mahal. Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen untuk keluar dari jebakan energi fosil yang disampaikannya di KTT APEC dan G20 di Brasil, KTT BRICS, sampai saat pidato kenegaraan di DPR."Presiden juga memberikan target 100 GW pembangunan PLTS. Ini adalah janji-janji yang signifikan, tetapi kita melihat selalu ada kesenjangan antara niat dan kemampuan mengeksekusi," ujar Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa di Jakarta, Jumat .Alokasi APBN melalui Kementerian ESDM untuk sektor energi terbarukan hanya Rp 0,64 triliun pada 2024. Sedangkan alokasi APBN untuk sektor energi fosil, seperti pertambangan dan migas, mencapai Rp 2,63 triliun.Bahkan, subsidi energi fosil mengalami peningkatan pada 2025 dan tahun depan, yang secara akumulasi mencapai Rp 1.023 triliun untuk periode 2022-2026."Nah, angka ini menunjukkan memang pemerintah kita masih fokus pada sektor ekstraktif dibandingkan energi terbarukan," tutur Analis Finansial dan Ekonomi IESR, Putra Maswan.Untuk anggaran energi terbarukan di tingkat provinsi pada 2025 relatif kecil, hanya Rp 426,7 miliar dari 33 provinsi.Minimnya anggaran membuat kemampuan pemerintah daerah membangun infrastruktur energi terbarukan terkendala dan baurannya tetap akan rendah. Misalnya, meski memiliki potensi surya hingga 21 GW, provinsi Bali baru mencapai kurang dari tiga persen dari target sebelas persen energi terbarukan pada 2025.Selain pemerintah, pendanaan energi terbarukan memang kurang mendapatkan dukungan dari swasta maupun pihak internasional. Kendati demikian, Putra menganggap, ada tren positif yang mana bank-bank nasional mulai meningkatkan alokasi pendanaan untuk energi terbarukan.Alokasi pendanaan dari empat bank-bank nasional terbesar di Indonesia pada awal tahun 2025 sudah mencapai Rp 36 triliun."Nah, hal ini dikarenakan meningkatnya komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) dari perbankan sendiri," ucapnya.Baca juga: Indonesia Masih Nyaman dengan Batu Bara, Transisi Energi Banyak RetorikanyaNamun, jika dibandingkan dengan alokasi pendanaan untuk sektor energi fosil, kata dia, masih kalah jauh. Jika dibandingkan, alokasi pendanaan untuk sektor energi fosil bisa lebih dari tujuh kali lipat lebih besar atau mencapai Rp 267 triliun.Pendanaan untuk energi terbarukan di Indonesia juga kurang mendapatkan dukungan untuk internasional. Realisasi pendanaan dari Just Energy Transition Partnership (JETP) — yang digadang-gadang terbesar dari internasional — masih sangat rendah."Kami melihat perbedaan antara realisasi dan komitmen yang diberikan. Ini sudah tahun ketiga dan kita baru mencapai 3 miliar dollar AS, maka ini sangat rendah karena ini hanya 14 persen dari total komitmen yang diberikan pada saat JETP itu diluncurkan.IESR merekomendasikan enam langkah utama untuk mendorong kenaikan bauran energi terbarukan Indonesia. Pertama, menyusun rencana pensiun energi fosil yang jelas dan terukur. Kedua, melakukan reformasi kelembagaan dan regulasi. Ketiga, memperluas pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), serta baterai.Keempat, mendorong relokasi atau pembangunan industri di wilayah yang memiliki pasokan energi bersih (low-carbon powershoring). Kelima, memperkuat pembiayaan energi terbarukan dan mengurangi subsidi fosil. Keenam, memastikan keterlibatan publik yang lebih bermakna.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Pada hari penerapan, ganjil genap berlaku dalam dua sesi, yakni pagi pukul 06.00–10.00 WIB dan sore pukul 16.00–21.00 WIB. Pengendara yang melintas di akses tol yang terhubung langsung dengan jalan ganjil genap tetap wajib menyesuaikan pelat nomor kendaraan.Baca juga: Wisatawan Menuju Gunungkidul Diimbau Gunakan Jalur AlternatifAdapun 28 akses gerbang tol di Jakarta yang terkena ganjil genap pada pekan ini sebagai berikut:1. Jalan Anggrek Neli Murni sampai akses masuk Tol Jakarta-Tangerang2. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai Jalan Brigjen Katamso3. Jalan Brigjen Katamso sampai Gerbang Tol Slipi 24. Off ramp Tol Tomang/Grogol sampai Jalan Kemanggisan Utama5. Simpang Jalan Palmerah Utara-Jalan KS Tubun sampai Gerbang Tol Slipi 16. Jalan Pejompongan Raya sampai Gerbang Tol Pejompongan7. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai akses masuk Jalan Tentara Pelajar8. Off ramp Tol Benhil/Senayan/Kebayoran sampai akses masuk Jalan Gerbang Pemuda9. Off ramp Tol Kuningan/Mampang/Menteng sampai simpang Kuningan10. Jalan Taman Patra sampai Gerbang Tol Kuningan 211. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai simpang Pancoran12. Simpang Pancoran sampai Gerbang Tol Tebet13. Jalan Tebet Barat Dalam Raya sampai Gerbang Tol Tebet 214. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai Jalan Pancoran Timur II15. Off ramp Tol Cawang/Halim/Kampung Melayu sampai simpang Jalan Otto Iskandardinata-Jalan Dewi Sartika16. Simpang Jalan Dewi Sartika-Jalan Otto Iskandardinata sampai Gerbang Tol Cawang17. Off ramp Tol Halim/Kalimalang sampai Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang18. Jalan Cipinang Cempedak IV sampai Gerbang Tol Kebon Nanas19. Jalan Bekasi Timur Raya sampai Gerbang Tol Pedati20. Off ramp Tol Pisangan/Jatinegara sampai Jalan Bekasi Barat21. Off ramp Tol Jatinegara/Klender/Buaran sampai Jalan Bekasi Timur Raya22. Jalan Bekasi Barat sampai Gerbang Tol Jatinegara23. Simpang Jalan Rawamangun Muka Raya-Jalan Utan Kayu Raya sampai Gerbang Tol Rawamangun24. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan Utan Kayu Raya-Jalan Rawamangun Muka Raya25. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan H Ten Raya-Jalan Rawasari Selatan26. Simpang Jalan Rawasari Selatan-Jalan H Ten Raya sampai Gerbang Tol Pulomas27. Off ramp Tol Cempaka Putih/Senen/Pulogadung sampai simpang Jalan Letjend Suprapto-Jalan Perintis Kemerdekaan28. Simpang Jalan Pulomas sampai Gerbang Tol Cempaka Putih

| 2026-02-01 19:24