Puan Maharani Serukan Keadilan Transisi Energi dan Tata Kelola AI di Forum Parlemen Negara Middle Power

2026-02-02 01:47:54
Puan Maharani Serukan Keadilan Transisi Energi dan Tata Kelola AI di Forum Parlemen Negara Middle Power
Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyerukan pentingnya keadilan dalam transisi energi dan tata kelola teknologi artificial intelligence (AI) yang inklusif bagi negara berkembang.Hal itu disampaikan Puan dalam 11th MIKTA Speakers’ Consultation 2025 di Seoul, Korea Selatan, Rabu .Dalam forum antarparlemen yang diikuti oleh Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia itu, Puan menjadi pimpinan parlemen pertama yang menyampaikan pandangan pada sesi bertajuk “The Role of Parliament in Ensuring the Just Energy Transition in the Era of AI and Climate Crisis.”Advertisement“Transisi menuju energi bersih tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan politik,” ujar Puan dalam pidatonya di hadapan para ketua parlemen negara MIKTA.Puan mengingatkan bahwa proses transisi energi harus berpihak kepada masyarakat, terutama kelompok rentan.Ia menilai, perang dan persaingan geopolitik tidak boleh mengalihkan perhatian negara dari agenda global untuk menstabilkan iklim dan mengurangi kesenjangan pembangunan.“Ketika pembangkit listrik tenaga batu bara tutup, para pekerja kehilangan pekerjaan. Ketika industri bergeser, ekonomi lokal menderita. Ketika harga energi naik, masyarakat termiskinlah yang pertama menderita,” kata Puan.“Jika kita tidak mengelola transisi ini dengan cermat, kita tidak akan mencapai transisi yang ramah lingkungan. Kita justru akan mendapatkan ketegangan sosial dan ketidakadilan," tambahnya. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-02 01:47