Strategi Mengatur Uang Tanpa Terjebak Perfeksionisme Finansial

2026-02-03 05:24:09
Strategi Mengatur Uang Tanpa Terjebak Perfeksionisme Finansial
-Banyak orang merasa harus selalu berada di jalur “terbaik” saat mengatur keuangan.Targetnya sering muluk. Maksimalkan kartu kredit, tekan pajak serendah mungkin, cari imbal hasil tertinggi, pastikan tabungan berbunga paling tinggi.Christine Benz, direktur keuangan pribadi yang pensiun di Morningstar sekaligus penulis How to Retire, memahami tekanan itu.“Industri [keuangan] memiliki pola pikir optimis,” ujarnya kepada CNBC Make It.“Jika Anda baru belajar dan beradaptasi, Anda mungkin mulai berpikir bahwa itulah satu-satunya cara untuk melakukan hal ini dan bahwa Anda salah jika mengambil jalan pintas,” katanya lagi.Baca juga: Menurut Warren Buffett, Ini 5 Kesalahan Finansial yang Bikin Kelas Menengah Sulit KayaBenz menilai tidak ada masalah dengan gaya pengelolaan yang detail.Namun banyak orang justru lebih cocok dengan pendekatan yang lebih sederhana. Tujuannya jelas. Hemat waktu, kurangi stres, dan tetap bergerak menuju tujuan jangka panjang.Dalam artikelnya di Morningstar, Benz menyebut pendekatan itu sebagai strategi “cukup baik”.Tidak sempurna, tetapi efisien dan hasilnya tidak jauh dari strategi kompleks. Berikut penjelasan tiap poin:Konsistensi menabung menjadi dasar banyak tujuan keuangan. Mulai dari persiapan pensiun sampai pelunasan utang.“Jika Anda menabung dengan wajar, hal itu menghilangkan kebutuhan untuk melakukan banyak hal lain,” kata Benz.“Bahkan jika Anda membuat keputusan yang kurang tepat tentang pilihan investasi, jika tingkat tabungannya lumayan, hal itu akan mengatasi banyak hal yang mungkin tidak sempurna dalam rencana tersebut,” katanya.Menabung 20 persen dari pendapatan ke portofolio biasa sering lebih kuat dampaknya dibanding menabung 5 persen ke investasi unggulan.Benz menyarankan teknik penganggaran terbalik. Tetapkan persentase tabungan. Ia menyebut 15 persen sebagai target masuk akal. Otomatiskan pemotongannya. Sisa pendapatan bisa digunakan sesuai kebutuhan tanpa repot menghitung kategori harian.Baca juga: Kerugian akibat Scam Rp 7,3 Triliun, OJK Dorong Generasi Muda Melek FinansialSecara teori, investor yang tepat dan cepat bisa mengalahkan pasar. Praktiknya sulit.Data Morningstar mencatat hanya 8 persen manajer reksa dana saham perusahaan besar AS yang berhasil mengalahkan indeks S&P 500 dalam 10 tahun hingga Juni 2025.Karena itu Benz mendorong portofolio inti berbasis reksa dana indeks. Biaya rendah. Mudah dipahami. Kinerjanya mengikuti pasar.“Banyak data menunjukkan fakta bahwa reksa dana indeks adalah pilihan yang sangat bagus, dan tidak perlu campur tangan,” ujarnya.“Mereka bisa memberi Anda eksposur ke berbagai sektor pasar saham dan obligasi hanya dengan satu kepemilikan,” sebutnya.Benz menilai reksa dana indeks berada di titik temu antara portofolio optimal dan strategi “cukup baik”.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 03:22