Jakarta - Hari itu sudah larut. Joko Hadi terlelap lebih awal. Kebetulan cuaca hujan petir. Sehingga tak ada aktivitas lain bisa dilakukan.Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Tepat di pukul 02 dini hari. Dalam keadaan setengah sadar, dia menjawab panggilan tersebut. Di ujung telepon, seseorang memintanya melakukan penggalian kubur malam itu juga.Joko coba menjelaskan keadaan. Tetapi penelepon memohon. Akhirnya dia tak bisa menolak. Sebagai penggali kubur, Joko menyadari permintaan tolong bisa datang kapan saja. Dia pun harus selalu siap.Advertisement"Saya pernah jam tengah dua ditelepon suruh gali, padahal saat itu lagi hujan petir. Tapi ya bagaimana lagi memang sudah tugas saya. Jadilah tengah malam itu saya menggali dalam keadaan berlumpur," ucap pria berpangkat Bintara Kepala ini saat berbincang dengan Sabtu .Joko Hadi sebenarnya berprofesi sebagai polisi di Polsek Samarinda Ulu. Sehari-hari, dia bertugas sebagai Bintara Administrasi Umum atau dikenal dengan istilah Basium.Dia lolos seleksi penerimaan Bintara Polri di tahun 2005. Meski sudah 20 tahun mengabdi di Korps Bhayangkara, Joko memilih tak melepas pekerjaan sebagai penggali kubur. Alasannya sederhana. Menjadi ladang amal jariyah untuk kehidupannya kelak di akhirat. Dia sangat percaya, ketika memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusannya di kemudian hari."Saya anggap ini bekal buat mati. Saya anggap ini bagian dari amal jariyah buat bekal ketika suatu hari saya meninggal dunia," ujar pria berusia 38 tahun itu.
(prf/ega)
Meniti Jalan Pengabdian Sang Polisi Penggali Kubur
2026-01-12 06:49:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:02
| 2026-01-12 06:48
| 2026-01-12 06:33
| 2026-01-12 05:53










































