Info Diskon Tarif Tol Periode Libur Nataru 2025/2026

2026-01-17 05:30:19
Info Diskon Tarif Tol Periode Libur Nataru 2025/2026
Pemerintah resmi memberikan diskon tarif tol untuk periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026). Diskon tarif yang diberikan kisaran 10-20 persen berlaku di 26 ruas jalan tol di Jabodetabek, Transjakawa, Nonjawa, dan Transumatra.Informasi tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (26/11/2025). Diskon ini untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dalam rangka libur Nataru 2025/2026.Menko Perekonomian, seperti dilansir kantor berita Antara, Rabu (26/11/2025), menyampaikan bahwa diskon tarif tol dengan kisaran 10-20 persen ini diberikan selama tiga hari, yakni pada tanggal 22, 23, dan 31 Desember 2025.Adapun potongan tarif berlaku di 26 ruas jalan tol, yang mencakup 2 ruas tol di Jabodetabek, 9 ruas tol Transjawa, 3 ruas tol Nonjawa, serta 12 ruas tol Transsumatra. Namun, untuk rincian ruas jalan tolnya akan diumumkan di kemudian hari.Selain diskon tarif tol, sebelumnya juga telah diumumkan program diskon transportasi untuk moda darat, laut, penyeberangan, dan udara. Hal ini termuat dalam SKB 4 Menteri/Kepala Badan Nomor PJ-MHB 9/2025, 303.2/2025, 20/2025, dan SKB.10/DI-BP/X/2025 yang terbit pada 28 Oktober lalu.Keputusna tersebut menetapkan penugasan kepada BUMN transportasi untuk memberikan diskon tarif sebagai stimulus ekonomi selama libur Nataru 2025/2026. Berikut rangkuman informasinya:Demikian informasi seputar diskon yang diberikan pemerintah dalam rangka mendukung kelancaran mobilitas masyarakat selama periode libur Nataru 2025/2026. Mulai dari diskon transportasi hingga ruas jalan tol, berlaku sesuai ketentuan masing-masing.Simak Video: Serba-serbi Diskon Transportasi Nataru[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-17 04:13