Antisipasi Cuaca Ekstrem saat Nataru, Polda Metro Kerahkan 196 Personel Siaga Bencana

2026-01-12 05:20:49
Antisipasi Cuaca Ekstrem saat Nataru, Polda Metro Kerahkan 196 Personel Siaga Bencana
Jakarta - Sebanyak 196 personel Polda Metro Jaya dikerahkan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem menjelang Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru (Nataru) 2026."Dalam menghadapi cuaca seminggu ke depan, Polda Metro Jaya turut melaksanakan Siaga Bencana dengan menyiapkan 196 personel," kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Asep Edi Suheri dalam keterangannya, Senin .Selain ratusan personel, Polda Metro juga menyiapkan sejumlah alat khusus serta kendaraan SAR yang akan diterjunkan di beberapa titik agar dapat merespons laporan masyarakat secara cepat.Advertisement"Kami juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada dengan cuaca yang kemungkinan berubah sewaktu-waktu," katanya, dikutip dari Antara.Polda Metro Jaya berkomitmen memberikan pelayanan terbaik agar perayaan Natal 2025 dan Tahun baru 2026 (Nataru) berlangsung aman, tertib dan Kondusif.Sebelumnya, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) meminta seluruh personel untuk bekerja ekstra saat Operasi Lilin 2025 pada momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 karena adanya potensi cuaca ekstrem.Astama Ops Kapolri Komisaris Jenderal Polisi Fadil Imran menyampaikan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi adanya sistem silklonik di sekitar wilayah Indonesia yang berpotensi memicu hujan lebat hingga angin kencang."Situasi ini tentunya menuntut kesiapan yang lebih tinggi, sehingga pelayanan Nataru tahun ini harus dilaksanakan secara ekstra dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," kata Fadil saat Apel Operasi Lilin 2025 di Silang Monas, Jakarta, Jumat .Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut beriringan dengan prediksi puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada periode November 2025 hingga Februari 2026. Cuaca ekstrem itu meningkatkan potensi terjadinya bencana.Menurut Fadil, personel di lapangan perlu mengantisipasi potensi longsor dan banjir, khususnya pada ruas-ruas jalan utama, jalur alternatif dan akses menuju kawasan objek vital.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-12 03:48