Eri Cahyadi Tingkatkan Keamanan Gereja di Surabaya Saat Natal

2026-01-16 04:18:15
Eri Cahyadi Tingkatkan Keamanan Gereja di Surabaya Saat Natal
SURABAYA, - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerbitkan tentang keamanan dan ketentraman selama perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.Dalam SE, Eri mengimbau, pengurus gereja atau panitia Natal berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), selama berlangsungnya ibadah.“Kita dengan gereja sudah berdiskusi, bagaimana pengamanan Natal pada waktu beribadah sampai masuk ke dalam gereja,” kata Eri, di Balai Kota Surabaya, Kamis .Baca juga: Amankan Ibadah Natal, PLN Prioritaskan Pasokan Listrik untuk 66 Gereja di Bangka BelitungEri menyebut, salah satu pengamanan tersebut dengan memaksimalkan CCTV yang ada di sekitar gereja.Hal tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan selama ibadah.“Melakukan pemasangan barier sebelum pintu masuk dan melakukan pemeriksaan terhadap orang, dan barang bawaan setiap orang yang memasuki area gereja,” ucapnya.Baca juga: Tidak Boleh Ada Gangguan atau Pembubaran Perayaan Natal di SalatigaDi sisi lain, Eri berharap, organisasi keagamaan lainnya bisa membantu menjaga keamanan dan ketertiban gereja, agar proses ibadah bisa berjalan dengan lancar.Kemudian, kata Eri, Pemkot Surabaya dengan aparat kepolisian bakal melakukan patroli bersama saat Malam Tahun Baru.Dengan tujuan, untuk meningkatkan keamanan kota.“Tidak ada knalpot brong. Seperti malam tahun baru sebelumnya, ada patroli bersama, terutama di pintu masuk gerbang Kota Surabaya,” ucapnya.Baca juga: Semarak Natal di Plaza Indonesia, Pohon Raksasa Jadi Magnet PengunjungMasyarakat juga diimbau untuk tidak menjual dan menyalakan petasan atau kembang api yang berpotensi menyebabkan ledakan, kebakaran, korban manusia atau barang.Sedangkan, lanjut dia, tempat rekreasi dan hiburan umum (RHU) diimbau tutup saat perayaan Natal, sekitar pukul 18.00 WIB.Lalu, saat tahun baru bisa buka hingga pukul 04.00 WIB.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 04:03