Festival Sumur Wali, Perayaan Kembalinya Mata Air yang Sempat Mengering

2026-01-12 06:47:24
Festival Sumur Wali, Perayaan Kembalinya Mata Air yang Sempat Mengering
Acara ini diadakan sebagai bentuk perayaan dan pelestarian nilai-nilai budaya serta lingkungan yang terkait dengan Sumur Wali, yang dipercaya sebagai peninggalan wali pada masa penyebaran agama Islam.Bagi masyarakat Grogol, Sumur Wali bukan sekadar mata air, melainkan memiliki nilai spiritual yang dalam.Baca juga: Geliat Film Lokal Salatiga: Sinema Sisifus Hidupkan Ruang Kreatif Anak Muda"Biasanya mata air dikaitkan dengan cikal bakal manusia dan masyarakat yang pertama 'babat alas' atau mendiami lingkungan tersebut," ungkap Teni Ardian, penggagas Festival Sumur Wali, pada Sabtu malam."Dengan berjalannya adat, maka secara otomatis lingkungan pendukung adat akan terjaga kelestariannya. Dalam hal ini, adat juga berperan dalam pelestarian alam," tambah Teni. Namun, upaya pelestarian Sumur Wali tidaklah tanpa tantangan.Seiring dengan pembangunan yang masif di area Grogol, Sumur Wali sempat mengering dan kehilangan sumber air.Untuk mengatasi masalah tersebut, Latar Kalitan, karang taruna, sesepuh desa, dan warga setempat melakukan kegiatan konservasi.Mereka gencar melakukan penanaman dan perawatan, hingga akhirnya air kembali mengalir di Sumur Wali."Karena itu, Festival Sumur Wali diadakan sebagai bentuk perayaan, bahwa yang diperjuangkan akan membuahkan hasil. Seperti air yang kembali hadir membasahi Sumur Wali," kata Teni.Festival Sumur Wali menjadi ajang berkumpulnya pegiat lingkungan, pelaku seni, aktivis, serta anak-anak yang peduli terhadap isu lingkungan."Selain pentas seni dari berbagai komunitas, ada juga workshop, diskusi, pameran karya, dan tentu juga penanaman pohon dalam rangkaian festival ini," papar Teni.Di antara penampil dalam Festival Sumur Wali 3 terdapat Grunge Ane Soeroto, Daun Hijau, Rewocakso, SastraSastro, Radio Edit, Nggerunge, TungTang Ansamble, Sanggar Sang Soko, Sanggar Brahmastra, serta drumblek D'Gsper.Baca juga: Sukacita Warga Grogol Salatiga, Sumur Wali yang Mengering Kembali Alirkan AirFestival ini juga menyelenggarakan diskusi bertema "Peran Budaya dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan" yang menghadirkan narasumber seperti Didot Harimurti (budayawan), Mujab (Ketua Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah), dan Dewi Candraningrum (pakar lingkungan).Acara ini juga menyajikan musikalisasi puisi dari Latar Kalitan, Hope, Erimaya, dan Gading Suryadmaja, serta pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, rebana Padang Ati, dan reog Rukun Santoso, yang semuanya berkontribusi dalam merayakan pelestarian budaya dan lingkungan di Salatiga.


(prf/ega)