BEKASI, – Antrean truk sampah yang mengular berjam-jam di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, bukan sekadar persoalan teknis pengelolaan sampah.Di balik kemacetan ritase dan gunungan sampah yang menjulang puluhan meter, tersimpan risiko kesehatan serius yang mengancam para sopir truk—mereka yang setiap hari berada di garis depan krisis sampah Jakarta.Paparan polutan, gas metana, jam kerja yang panjang, serta kurang tidur menempatkan para sopir pada risiko penyakit kronis, mulai dari gangguan paru-paru, hipertensi, hingga stroke.Baca juga: Antrean Panjang di Bantargebang dan Nyawa Sopir Truk Sampah yang DipertaruhkanAncaman ini tidak hanya bersifat jangka panjang, tetapi juga dapat berujung fatal dalam waktu singkat. Risiko tersebut bukan sekadar asumsi.Pakar penyakit dalam Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, menjelaskan kondisi kerja sopir truk sampah—khususnya di Bantargebang—merupakan kombinasi faktor berbahaya bagi kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.“Dia (sopir) mudah mengalami infeksi ya, kemudian juga tentu dalam tidur kurang dalam. Waktu jangka panjang akan menjadi stresnya sendiri, yang ini juga akan bisa menyebabkan berbagai macam potensi penyakit,” ujar Ari Fahrial saat dihubungi Kompas.com, Jumat .Menurut Ari Fahrial, tubuh manusia memiliki ritme kerja ideal. Dalam kondisi normal, seseorang membutuhkan waktu tidur enam hingga delapan jam per hari agar fungsi organ tetap optimal.“Sejatinya seorang itu tidur secara normal itu enam jam, enam sampai delapan jam ya. Kemudian delapan jam itu untuk aktivitas berat, kemudian delapan jam berikutnya untuk aktivitas ringan. Jadi boleh dibilang itu dibagi tiga sebenarnya,” jelas dia.Namun, pola tersebut nyaris mustahil dijalani oleh sopir truk sampah di Bantargebang. Jam kerja yang panjang, antrean hingga belasan jam, serta tuntutan kembali bekerja keesokan harinya membuat waktu istirahat terpangkas drastis.Baca juga: Bantargebang di Ambang Penuh, Jakarta Masih Mencari Jalan Keluar Sampahnya“Kalau kita lihat bahwa para sopir truk ini bekerja dengan jam sangat panjang, kurang tidur, nah ini tentu akan mengaruhi keadaan tubuhnya, kesehatannya secara keseluruhan,” kata Ari.Dalam jangka panjang, kelelahan kronis berpotensi memicu berbagai penyakit, terutama bagi mereka yang memiliki faktor bawaan atau penyakit penyerta.“Apalagi kalau dia punya bakat atau sudah ada faktor genetik untuk hipertensi. Orang-orang dengan tidur yang kurang, kecapekan, kelelahan tentu juga akan mengaruhi. Kalau dia punya penyakit kronis misalnya gula darah yang tidak terkontrol,” ujar dia.Kondisi tersebut, lanjut Ari Fahrial, dapat berujung fatal.“Kalau hipertensi tadi mungkin bisa menjadi stroke misalnya seperti itu,” kata dia.Selain kelelahan, ancaman lain yang mengintai sopir truk sampah adalah paparan gas metana dan polutan dari timbunan sampah yang komposisinya tidak diketahui secara pasti.“Bicara soal sampah berbahaya, sekali lagi kita juga enggak tahu ya komponennya itu ya. Tapi yang jelas ketika dia terpapar dengan sampah, gas metana, segala macam, itu tentu yang akan terganggu adalah paru-parunya,” ujar Ari.Baca juga: Cerita Suherni Gantungkan Hidup dari Sampah Plastik BantargebangPaparan jangka panjang berisiko memicu gangguan pernapasan serius.“Dia bisa mengalami yang kita bilang penyakit paru obstruksi kronis. Bisa saja kalau dia memang ada faktor unsur alergi atau hipersensitif, dia akan mengalami asma,” kata dia.Namun, bagi pekerja yang terpapar secara terus-menerus, risiko penyakit paru kronis menjadi jauh lebih besar. Ia menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri, seperti masker, untuk meminimalkan paparan gas metana dan polutan.“Seharusnya yang bersangkutan harus dilengkapi dengan masker, sehingga dia tidak terpapar langsung dari gas metana dan polutan,” katanya.
(prf/ega)
Risiko Maut Sopir Truk Sampah di Bantargebang: Kelelahan dan Terpapar Gas Metana
2026-01-12 06:28:13
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:24
| 2026-01-12 05:27
| 2026-01-12 04:36
| 2026-01-12 04:25










































