Insentif Mobil Listrik Berakhir, Pasar LCGC Berpeluang Bangkit Lagi

2026-02-04 06:51:44
Insentif Mobil Listrik Berakhir, Pasar LCGC Berpeluang Bangkit Lagi
JAKARTA, – Berakhirnya sejumlah insentif mobil listrik pada akhir 2025 diprediksi akan membawa perubahan signifikan pada peta pasar otomotif nasional.Salah satu dampaknya, segmen Low Cost Green Car (LCGC) disebut berpeluang kembali diminati, terutama oleh konsumen kelas menengah bawah yang sensitif terhadap harga dan cicilan.Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus, mengatakan bahwa tahun 2026 perlu dibaca sebagai fase pendewasaan pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Pertumbuhan EV dipastikan tidak lagi seagresif periode sebelumnya, ketika insentif impor masih diberikan secara masif.“Tahun 2026 harus kita baca sebagai fase pendewasaan pasar, di mana pertumbuhan EV tidak lagi setinggi masa banjir insentif impor sebelumnya. Pemerintah kan hanya mengakhiri relaksasi khusus untuk unit CBU berupa pembebasan bea masuk dan PPnBM sesuai Permen Investasi yang berakhir Desember 2025,” ujar Yannes kepada Kompas.com, Senin .Baca juga: Berapa Biaya Servis Honda Vario 125 Street di AHASS?Dengan berakhirnya relaksasi tersebut, hanya mobil listrik yang memenuhi syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen yang masih bisa menikmati insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan catatan kebijakan TKDN pada 2026 tetap di angka 40 persen. Sementara itu, EV impor utuh atau completely built up (CBU) dipastikan mengalami lonjakan harga.“Akibatnya, PPN rendah sebesar 2 persen hanya akan dinikmati oleh EV yang memenuhi syarat TKDN minimal 40 persen, sehingga harga unit CBU dipastikan meroket signifikan,” kata Yannes.Kondisi ini diyakini akan menekan segmen EV entry-level di rentang harga Rp 200 juta hingga Rp 400 jutaan. Pasalnya, konsumen di kelas ini sangat mempertimbangkan cicilan bulanan dalam mengambil keputusan pembelian./Ruly Kurniawan BYD Atto 1“Dampaknya bakal memicu konsumen menghitung ulang atau bahkan menunda pembelian EV terjangkau,” ucapnya.Lebih jauh, Yannes melihat adanya potensi pergeseran struktur pasar di kelas bawah, yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan mobil di Indonesia. Konsumen yang sebelumnya mulai melirik EV murah, berpotensi kembali ke kendaraan bermesin konvensional yang lebih terjangkau.Meski begitu, Yannes menegaskan bahwa pasar kendaraan listrik secara keseluruhan tidak akan ambruk. Adopsi EV disebut sudah mulai terbentuk secara organik, terutama di kota-kota besar, seiring berkembangnya ekosistem produksi lokal dan jaringan purna jual.“Secara keseluruhan pasar tidak akan ambruk, karena adopsi EV sudah mulai terbentuk secara organik seiring semakin matangnya ekosistem produksi lokal dan layanan purna jual,” kata dia.Adapun dari sisi LCGC, Yannes menilai segmen ini justru berpotensi mengalami rebound struktural, khususnya di rentang harga Rp 200 juta hingga Rp 300 jutaan.Baca juga: Dari Impor ke Ekosistem Industri, Begini Jejak Tumbuhnya Otomotif Indonesia yang Menggerakkan Ekonomi“Selama 2023–2025, EV tumbuh cepat karena gap harga dengan LCGC makin tipis akibat insentif impor dan PPN DTP. Banyak pembeli mobil pertama dari kelas menengah bawah yang tadinya realistisnya beli LCGC, akhirnya naik sedikit ke EV kelas Rp 200–400 jutaan,” kata Yannes.Namun, ketika insentif impor berakhir dan sebagian EV yang belum siap dengan kebijakan TKDN 40 persen mengalami kenaikan harga signifikan, jarak harga antara EV dan LCGC kembali melebar.“Di titik ini, konsumen kelas menengah kita yang rasional akan mundur satu langkah. LCGC kembali jadi opsi paling aman secara cicilan, nilai jual kembali, dan risiko,” ujarnya.Karena itu, kebangkitan LCGC ke depan dinilai bukan sekadar soal nostalgia, melainkan refleksi dari realitas daya beli pasar otomotif terbesar di Indonesia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Sementara Samsung Music Studio 5 hadir dengan ukuran lebih ringkas. Speaker ini ditujukan bagi pengguna yang menginginkan kualitas audio mumpuni tanpa mengganggu tampilan ruangan. Music Studio 5 mendukung koneksi WiFi dan Bluetooth, layanan streaming, serta kontrol suara.Kedua speaker WiFi Music Studio juga dirancang agar mudah diintegrasikan dengan soundbar dan TV Samsung, sebagai bagian dari ekosistem audio terpadu.Samsung juga meningkatkan teknologi Q-Symphony, yang memungkinkan TV, soundbar, dan speaker WiFi bekerja sebagai satu sistem audio. Pengguna dapat menghubungkan hingga lima perangkat audio sekaligus, dengan sistem yang menyesuaikan suara berdasarkan tata letak ruangan.Selain itu, Samsung juga memperkenalkan jajaran ekosistem audio terbaru mereka dari lini soundbar Q Series.Selama lebih dari satu dekade, Samsung telah membentuk evolusi audio rumah melalui teknologi akustik canggih, fitur cerdas, dan desain yang dipikirkan secara matang, ungkap Hun Lee, Executive Vice President Visual Display Business Samsung Electronics, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Samsung. Kami melanjutkan warisan tersebut dengan perangkat audio generasi terbaru yang dirancang untuk menghadirkan performa suara yang kaya dan ekspresif di setiap ruang dan momen, lanjut dia. Salah satu produk utama dalam ekosistem audio terbaru ini adalah soundbar flagship HW-Q990H.Baca juga: Ketika HP Lipat Tiga Samsung Galaxy Z TriFold Dibuka-Tutup Barbar 200.000 Kali...Soundbar ini hadir dengan sistem 11.1.4-channel yang menggabungkan soundbar utama, speaker belakang, dan subwoofer aktif. Samsung juga menambahkan teknologi Sound Elevation agar terdengar lebih natural, serta fitur Auto Volume untuk menjaga konsistensi suara di berbagai jenis konten.Soundbar ini juga dibekali fitur berbasis AI untuk memperluas bidang suara. Lewat fitur ini, Samsung mengeklaim pengalaman audio yang dihadirkan setara dengan sistem home theater profesional, tetapi tetap ringkas untuk penggunaan di rumah.Selain itu, Samsung memperkenalkan All-in-One Soundbar HW-QS90H. Soundbar ini bisa dipasang di dinding atau diletakkan di atas meja. Sensor di dalamnya akan menyesuaikan arah suara secara otomatis sesuai posisi perangkat. Dengan sistem 7.1.2-channel dan 13 speaker, soundbar ini mampu menghasilkan bass yang dalam tanpa perlu subwoofer tambahan.

| 2026-02-04 06:27