JAKARTA, – Fenomena generasi sandwich, di mana seseorang harus menanggung beban finansial dan emosional bagi orangtua sekaligus keluarga kecilnya, semakin nyata di tengah masyarakat perkotaan.Fenomena ini menuntut generasi produktif menghadapi tekanan berat sekaligus mengatur keuangan dan prioritas hidup dengan bijak.Generasi sandwich adalah istilah yang menggambarkan posisi seseorang “terjepit” antara tanggung jawab merawat orangtua dan menafkahi keluarga sendiri.Baca juga: Pria Bayar Seenaknya di Warteg Tanah Abang Dipicu Kemiskinan dan Generasi SandwichKondisi ini menuntut individu menjalankan dual caregiving, yaitu bertanggung jawab terhadap keluarga prokreasi (anak dan pasangan) sekaligus keluarga orientasi (orangtua).Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, menuturkan, fenomena ini sudah melekat lama dalam masyarakat."Generasi Sandwich merupakan fenomena yang terkait dengan struktur keluarga. Disebut sandwich karena adanya lapisan antara keluarga prokreasi dan keluarga orientasi. Fenomena ini muncul dalam berbagai konteks budaya dan sudah melekat di masyarakat," ujar Ida, Rabu .Beban menjadi generasi sandwich dirasakan berat oleh banyak orang. Salah satunya Inta (28), warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang harus menafkahi keluarganya sejak lulus kuliah pada 2019."Capek banget, kadang mikir, 'jika semua bersandar pada ku, aku harus bersandar ke mana?' Tapi, lagi-lagi, kita kan enggak bisa pilih harus terlahir di keluarga yang seperti apa," ungkap Inta.Inta tetap bersemangat bekerja untuk menghidupi orangtua yang sudah lanjut usia, sebagai bentuk balas budi atas pengorbanan mereka membiayai pendidikannya hingga menjadi sarjana.Sebab, Inta tahu, keluarganya bukan merupakan orang yang berada. Kedua orangtuanya terpaksa harus berutang demi bisa menyekolahkannya menjadi sarjana.Sama halnya Verel (27), yang menjadi generasi sandwich sejak 2021 ketika ayahnya berhenti bekerja dan ibunya sakit. Selain menanggung biaya hidup orangtua, ia juga membantu kakak yang merawat ibunya.Baca juga: Anies Sebut Mimpi Tinggi Anak Muda Terhalang Fenomena Sandwich Generation"Kalau dibilang capek secara fisik pasti capek karena beban yang dipikul bukan buat diri sendiri kadang harus mikir dalam kondisi capek banget sama pekerjaan, kehidupan segala macam," tutur dia.Verel mengaku, tak jarang pula dirinya ingin menyerah dengan keadaan. Namun, niat itu ia urungkan berkali-kali karena memikirkan nasib kedua orangtuanya, jika ia berhenti berjuang.Adapun kakak perempuan Verel yang bertugas merawat sang ibunda juga bercerai dengan suaminya, sehingga ikut menjadi tanggungan anak bontot tersebut."Alhamdulillah sudah karyawan tetap, meski penghasilan belum besar, tapi niatkan untuk ibadah, sebagai bagian berbakti dan merawat orangtua," ujar Verel.Dok: pribadi Salah satu generasi sandwich bernama Ruby Rachmadina (27).Sementara itu, Ruby Rachmadina (27) dari Bogor turut menanggung biaya pendidikan adiknya karena penghasilan orangtuanya dari usaha warung kecil tidak cukup. Ia juga memberikan jatah bulanan untuk orangtua dan siap membantu kakaknya jika ada kebutuhan mendesak.Ia mengaku, secara otomatis menjadi generasi sandwich ketika mulai bekerja sekitar 2020-an.
(prf/ega)
Jeritan Hati Generasi "Sandwich": Jika Semua Bersandar Padaku, Aku Harus Bersandar ke Mana?
2026-01-12 04:30:36
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:42
| 2026-01-12 04:32
| 2026-01-12 03:55
| 2026-01-12 02:39










































