Mata Bocah SD di Palembang Lebam Usai Pulang Sekolah, Disdik Turun Tangan

2026-02-04 06:48:04
Mata Bocah SD di Palembang Lebam Usai Pulang Sekolah, Disdik Turun Tangan
PALEMBANG, - Seorang murid sekolah dasar (SD) di Palembang, Sumatera Selatan, berinisial FT mengalami luka lebam hingga membuat Erna, yang merupakan ibu kandungnya, terkejut.Erna baru mengetahui mata anak perempuannya itu lebam ketika menjemput FT pulang sekolah di SD Negeri 150 kawasan Kecamatan Gandus, Kota Palembang, pada Senin .Kejadian ini terungkap setelah diunggah oleh akun Instagram @Virasoniaaaa.Kondisi yang dialami FT pun membuat Erna terkejut sebab saat berangkat ke sekolah, anaknya itu dalam kondisi sehat.Baca juga: Heboh Video Penculikan Anak Dalam Karung di Palembang, Polisi: Hoaks, Main-main Warga"Saya sempat tanyakan ke anak saya, tetapi sampai sekarang dia hanya diam," kata Erna kepada wartawan ketika berada di rumahnya, Senin .Merasa ada hal janggal, Erna menanyakan langsung kepada pihak sekolah dan guru yang ada di kelas.Namun, ia tak mendapatkan jawaban apa pun mengenai penyebab mata anaknya itu menjadi merah dan lebam."Sempat saya tanyakan, kata guru kemungkinan sakit mata karena sering main handphone," ujarnya.Namun, Erna membantah penjelasan itu, sebab FT jarang sekali memainkan HP, apalagi di sekolah.Karena tak mendapatkan jawaban, Erna lalu membawa anaknya ke rumah sakit.Ia terkejut bahwa luka lebam itu lantaran adanya tindak kekerasan yang diduga dialami oleh FT.Baca juga: Alasan PGRI Laporkan Wali Murid SMKN 7 Palembang ke Polisi: Ada kata-kata yang Tak Pantas"Sampai sekarang anak saya masih trauma. Setelah dibawa ke dokter, memang ada lebam akibat benturan dekat mata. Kalau memang karena sering main handphone, bisa merah, tetapi enggak mungkin ada lebam," ujar wanita yang bekerja sebagai ART ini.Sejak kejadian tersebut, FT pun mengalami trauma. Ia tak lagi mau pergi ke sekolah dan memilih diam di rumah."Saya sangat sedih anak saya jadi begini. Kami juga tidak pernah berbuat jahat dengan orang lain," ungkapnya.Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Palembang, Muhammad Affan Prapanca, mengaku telah mengunjungi SD Negeri 150, tempat FT sekolah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 06:11