- Sejarawan sekaligus penulis asal Belgia, David Van Reybrouck merilis buku Revolusi melalui Penerbit Gramedia Pustaka Utama yang menghadirkan kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia.David mengaku ia selalu tertarik pada sejarah Indonesia. Hingga suatu hari ia bertemu seseorang yang memuji buku karyanya yang sebelumnya, Congo: The Epic History of a People di Belanda dan memintanya untuk membuat buku tentang masa kolonial Negeri Kincir Angin di masa lalu.Proses pembuatan buku ini memakan waktu hampir enam tahun mulai dari riset, melakukan hampir 200 wawancara ke berbagai pulau di Indonesia bahkan ke Jepang, hingga merangkai tulisan.Ia mengaku tidak pernah menghitung pengeluaran total yang dihabiskan. Berkat kesuksesan besar buku Congo, ia dapat menggunakan royaltinya untuk pembuatan Revolusi.Baca juga: Buku Tak Pernah Mati: Generasi Muda Kembali Jatuh Cinta pada MembacaIa sempat mendapat subsidi karena setahun menjadi penulis yang bermukim di Jerman."Saya bukan akuntan yang baik. Mungkin 100.000 Euro (Rp 1,9 miliar)? Tapi itu terlalu banyak. Saya tidak menerima uang dari pemerintah Belanda atau Indonesia, tidak dari NGO manapun atau dari Amerika," kata David dalam wawancara sebelum acara peluncuran di Gramedia Jalma, Jakarta Selatan, Senin .Ia memanfaatkan teknologi dan cara modern. Misalnya mencari penerjemah bahasa Indonesia untuk wawancara dari aplikasi Couchsurfing.Hingga menggunakan aplikasi pencarian jodoh Tinder untuk mendapatkan narasumber kakek atau nenek dari para penggunanya yang berkait dengan Indonesia."Sejarah Indonesia sangat kompleks. Di Indonesia ada ulama Islam, komunis, dan nasionalis. Seperti kapal dengan sosial, ras, dan ekonomi berbeda," ujar David soal tantangan yang ia hadapi.Baca juga: Kemendikdasmen Hadirkan Buku-buku STEM Gratis, Unduh di Link IniDavid menegaskan sejarah Kemeredekaan Indonesia tidak berakhir di tahun 1949 ketika Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara dalam Konferensi Meja Bundar.Melainkan berlanjut ke Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 yang juga ada di dalam buku Revolusi."Indonesia adalah negara pertama yang merdeka setelah Perang Dunia ke-2. Saya mengecek kepastiannya 20 kali. Tidak ada yang pernah menyinggung ini, di Indonesia sekalipun," ujar David.Revolusi Indonesia, menurut David, memberikan dampak besar terhadap Asia, Arab, Afrika, dan Amerika Latin.Dari Gamal Abdul Nasser hingga Nelson Mandela mengagumi apa yang terjadi di Indonesia."Semangat dari Bandung tersebut berlangsung dari 1955 sampai 1965 tetapi kemudian ditumpaskan oleh CIA. Bahkan di Indonesia Soeharto datang dengan kekuasaan dengan dukungan CIA. Di Kongo, (Presiden) Mobutu datang dengan kekuasaan dan dukungan CIA," tutur David."Jadi, Amerika mendukung dekolonisasi, namun ketika negara-negara baru mencari model yang adil untuk tantangan sosial-ekonomi, Amerika menjadi panik," imbuhnya.Baca juga: Menbud Fadli Zon Sebut Buku Sejarah Indonesia Versi Baru Sedang Tahap EditingDavid menyebut dahulu Indonesia adalah ikon dunia. Terbukti dengan Soekarno yang disambut di manapun, dari Washington sampai Moskow."Indonesia dulu merupakan negara yang sangat terlihat. Tetapi kediktatoran di bawah Soeharto adalah masa yang sangat sunyi. Indonesia menjadi raksasa yang diam. Jendela-jendela ditutup, orang-orang melakukan sensor diri, dan orang-orang takut ditangkap," jelas David.Baca juga: Setahun Menjabat, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Luncurkan Buku, Apa Isinya?"Tiba-tiba Indonesia yang tadinya ikon global, menjadi bangsa yang nyaris terlupakan. Dan kesan saya, generasi kini sedang menemukan kembali kepercayaan diri itu," tambah David yang juga menyoroti demonstrasi dengan bendera One Piece.
(prf/ega)
Rilis Buku Revolusi, David Van Reybrouck Sebut Sejarah Indonesia Sangat Kompleks
2026-01-11 15:35:46
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 13:45
| 2026-01-11 13:43
| 2026-01-11 13:21
| 2026-01-11 13:21










































