Badak Jawa Mati Usai Translokasi di Taman Nasional Ujung Kulon

2026-01-31 15:54:57
Badak Jawa Mati Usai Translokasi di Taman Nasional Ujung Kulon
Upaya pelestarian satwa endemik badak Jawa melalui translokasi ke Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di area Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menghasilkan catatan kurang baik. Satu ekor badak Jawa bernama Musofa mati setelah ditranslokasi."Seekor badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) bernama Musofa, yang menjalani perawatan intensif di Javan Rhino Study and Conservation Area Taman Nasional Ujung Kulon, dinyatakan tidak dapat diselamatkan akibat kondisi penyakit kronis bawaan yang sudah lama diderita," kata Kepala Balai TNUK Ardi Andono dari keterangan tertulis yang diterima, Kamis (27/11/2025).Ardi menyatakan proses translokasi Musofa telah melalui perencanaan matang, dengan melibatkan para ahli konservasi satwa liar dari dalam dan luar negeri, dokter hewan, TNI, serta berbagai mitra konservasi. Ia menjelaskan translokasi bertujuan menjaga kelestarian populasi badak Jawa di TNUK, yang terletak di Kabupaten Pandeglang."Seluruh prosedur dilaksanakan sesuai standar konservasi internasional, dengan simulasi, penilaian etik, serta kesiapan logistik, dan pengamanan. Musofa dipindahkan tanpa luka atau cedera, tapi penyakit kronis yang lama diderita menjadi tantangan medis yang tidak dapat diatasi," katanya.Ardi mengatakan, pada 3 November, Musofa berhasil masuk pit trap atau lubang jebak yang dibuat oleh tim dan pada 3 November Musofa tiba di paddock JRSCA dalam kondisi stabil. Namun, pada 7 November, kondisi kesehatan Musofa menurun dan dinyatakan mati."Namun, pada 7 November 2025, Musofa mengalami penurunan kondisi klinis. Tim medis pun segera memberikan penanganan darurat sesuai standar penyelamatan satwa liar. Sayangnya, pada sore di hari yang sama, Musofa dinyatakan tidak dapat diselamatkan," ungkapnya.Ardi melanjutkan, berdasarkan hasil bedah atau nekropsi oleh tim patologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, ditemukan penyakit bagian dalam. Tak hanya itu, ditemukan luka di bagian luar tubuh Musofa akibat perkelahian di alam liar."Pemeriksaan menunjukkan adanya penyakit kronis yang sudah berlangsung lama pada lambung, usus, dan otak, infeksi parasit dalam jumlah signifikan, serta tanda degenerasi jaringan. Ditemukan pula luka lama akibat perkelahian di alam, yang menjadi faktor tambahan, namun bukan penyebab utama," ungkap Ardi.Tonton juga Video: Kelahiran Bayi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-31 16:10