Resonansi Budaya Indonesia dan Korea Selatan di Balik Karya Sinema

2026-02-03 20:10:52
Resonansi Budaya Indonesia dan Korea Selatan di Balik Karya Sinema
Film Exhuma menjadi salah satu karya sinema Korea Selatan yang meraih sukses besar di pasar Indonesia. Faktor resonansi budaya dinilai menjadi pendorong jutaan masyarakat Indonesia menonton film tersebut.Hal itu disampaikan oleh Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan The Korea Foundation dalam program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu.Ssun menyampaikan film Exhuma meraih 2,6 juta penonton di Indonesia. Atas kesuksesannya itu, jurnalis-jurnalis dari Korea dikirim ke Indonesia untuk mencari tahu alasan di balik pencapaian film tersebut."Jadi dari film Exhuma ini, budaya yang keluar dari filmnya itu sangat mempunyai resonansi atas budaya yang ada di Indonesia," kata Ssun berbicara dalam bahasa Korea yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.Ssun menyampaikan film Exhuma memiliki keterkaitan karena penonton Indonesia menyukai film horor. Selain itu, ada unsur budaya di Korea juga yang relevan dengan budaya di Indonesia."Dan juga di film ini untuk pemakamannya itu kan nggak pakai kremasi, yaitu ceritanya itu mengenai dikubur. Nah, itu juga sangat resonate sama orang-orang di Indonesia yang biasanya kalau misalnya emang ada yang meninggal itu, kebanyakan dari orang-orang yang dari agama Muslim itu pasti kan enggak boleh dikremasi, bolehnya itu adalah dikubur," ujar Ssun.Ssun kemudian membuka diskusi kepada para peserta yang hadir dalam acara itu untuk menyampaikan pendapatnya tentang alasan di balik keberhasilan film Exhuma di Indonesia. Muncul pendapat bahwa memang ada kesamaan budaya yang kemudian mendorong penonton Indonesia menyaksikan film tersebut. Selain itu, sejarah mengenai kolonialisasi Jepang di Korea juga menjadi unsur penting.Dari berbagai pendapat itu, Ssun menyimpulkan bahwa memang ada kemiripan budaya di Indonesia dan Korea yang tercermin dalam film Exhuma. Di sisi lain, ada kesamaan selera soal film horor yang mengangkat dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat."Nah ini adalah aspek-aspek yang ada, sebuah koneksi dari film Korea juga dan ada di film Indonesia juga," ujar dia.Dikutip dari detikPop, film Exhuma menorehkan sejumlah prestasi di ajang penghargaan film internasional, salah satunya di Spanyol. Exhuma dianugerahkan Special Jury Award di Sitges Film Festival.Tak hanya itu, Exhuma juga sebelumnya menerima penghargaan lain yaitu empat piala di kategori film Baeksang Arts Awards, masing-masing untuk Best Director, Best Actress (Kim Go Eun), Best New Actor (Lee Do Hyun) dan Technical Award (Sound) untuk Kim Byung In.Tayang perdana di Korea Selatan pada Februari 2024, Exhuma langsung masuk jajaran film layar lebar paling sukses di negara asalnya. Sampai film ini turun dari layar bioskop tercatat sudah 12 juta penonton menyaksikannya.Film thriller misteri yang juga laris di bioskop Indonesia ini bercerita tentang dua orang dukun muda yang direkrut oleh keluarga kaya untuk menyelamatkan jiwa mereka dari sosok arwah leluhur. Kedua dukun tersebut bekerja sama dengan ahli bedah mayat dan orang pintar lainnya untuk menggali sebuah makam leluhur yang berlokasi di desa terpencil di Korea.Dalam kesempatan itu, Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, juga menjelaskan alasan film-film dari Korea Selatan menyasar pasar Indonesia. Pertama, Indonesia memiliki populasi yang sangat besar."Indonesia memiliki populasi yang sangat besar dan demografi muda. Anda tahu populasi Indonesia mencapai lebih dari 286 juta. Itu berarti ini adalah populasi terbesar keempat di dunia," ujar dia.Indonesia juga, kata Ssun, mempunyai pertumbuhan pesat dalam konektivitas internet. Pengguna internet di Indonesia bahkan mencapai 230 juta atau sekitar 80,5% dari populasi Indonesia."Berdasarkan populasi itu, lebih dari 80% penduduk bisa menggunakan internet. Itu angka yang sangat besar dibandingkan negara lain," imbuh Ssun.Faktor lainnya yaitu Indonesia dianggap sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan yang cukup pesat. Indonesia dinilai sebagai negara paling potensial untuk peningkatan daya beli."Dari segi pendapatan, lebih banyak orang mampu membeli layanan berbasis langganan, khususnya OTT. Dan juga tiket bioskop serta hiburan," kata Ssun.Terakhir, kata Ssun, Indonesia memiliki karakter audiens online yang besar dan sangat terlibat. Banyaknya generasi milenial dan generasi Z yang membagikan konten di media sosial menjadi faktor daya tarik."Banyak dari mereka mengonsumsi, membagikan, dan mendiskusikan konten media. Jadi ini adalah proporsi yang sangat, sangat aktif di pasar Indonesia," kata Ssun.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

33. Bagaimana pola pengembangan paragraf ke-1, ke-2, dan ke-3 pada teks tersebutTentukan Benar (T) atau Salah (S) untuk setiap pernyataan berikut!34. Percakapan:Dini: Teks tersebut sangat menarik dan bisa menambah wawasan kita, terutama jika kita berencana untuk mengembangkan suatu bisnis kecil.Rio: Iya, pilihan katanya juga sangat mudah dimengerti sehingga orang yang awam terhadap istilah di bidang ekonomi juga mudah memahami isi informasi yang disajikan.Sena: Aku sependapat dengan kalian berdua, tetapi rasanya teks tersebut akan lebih baik jika disertai data pertumbuhan UKM dalam kurun waktu lima tahun terakhir atau pendapat ahli di bidang ekonomi.Berdasarkan percakapan tersebut, mengapa pendapat Sena sangat baik dalam menilai keakuratan informasi yang disajikan?Tentukan Setuju atau Tidak Setuju untuk setiap alasan berdasarkan isi teks!Baca juga: 30 Soal PTS PAI Kelas 3 Semester 1 Kurikulum Merdeka dan Kunci Jawaban STS Pendidikan Agama IslamTeks untuk soal nomor 35-37!Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus hoyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau. Tak satupun barang tertinggal di rumah lama. Begitu juga dengan sahabatku, loami harus berpisahBertemu dengannya setelah sekian lama, mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang dildapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya. Tak terasa mata saya mulai berkaca-kacaSaat malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Saya sering mendengar cerita mengasyikan anak-anak beramai-ramai berangkat ke sawah selepas iaya untuk mencari jangkrik. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak. Tidak ganti baju? tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat, Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasапуа sangat tidak elokSaya mengambil alih obor dari tangannya. Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya! Terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coldatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat untuk tetap bersama saya. (Kutipan Cerpen Seragam karya Aris Kurniawan Basuki dengan penyestialan)35. Kalimat:“Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau.”Penggunaan kata boyongan memperjelas peristiwa yang dialami tokoh “saya”, yaitu …Baca juga: 50 Soal UKPPPG 2025 Guru SD dan Kunci Jawaban Uji Kompetensi PPG sebagai Bahan Latihan36. Peristiwa apa yang mungkin akan terjadi kepada sahabatnya jika tokoh saya tidak ikut mencari jangkrik malam itu? Tentukan Tepat atau Tidak Tepat untuk setiap pertanyaan berikut!37. Kalimat mana saja dari dalam kutipan cerpen tersebut yang membuktikan karakter sahabat tokoh saya merupakan seorang yang setia kawan?Pilihlah jawaban yang benar!  Jawaban benar lebih dari satu. 

| 2026-02-03 18:20