“Investor asing tidak akan membangun negara kita. Mereka datang ke sini hanya untuk menikmati kue pertumbuhan ekonomi Indonesia.”PERNYATAAN Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada awal Oktober 2025 ini menggambarkan perspektif baru pemerintah terhadap arus modal asing.Pernyataan itu terkesan seperti kritis terhadap ketergantungan struktural Indonesia pada investasi luar negeri.Apakah cara pandang ini yang menyebabkan arus investasi langsung asing (FDI - Foreign Direct Investment) justru melambat?Dalam kacamata ekonomi politik, pernyataan Purbaya merupakan bentuk reframing (pembingkaian ulang) hubungan antara negara dan modal global.Ia menegaskan pentingnya kedaulatan ekonomi nasional. Namun, pada saat yang sama mencerminkan pergeseran paradigma kebijakan investasi dari welcoming investment (keterbukaan penuh terhadap investasi asing) menjadi guarded pragmatism (kehati-hatian yang pragmatis dalam menerima modal luar).Pemerintah tampak ingin menampilkan citra kemandirian fiskal dan industrial, tetapi risiko komunikatifnya adalah munculnya sinyal yang ambivalen (tidak konsisten dan mudah ditafsir ganda) bagi investor antara ingin tetap terbuka bagi bisnis dan investasi, tapi sekaligus bersikap protektif terhadap arus modal asing.Data FDI menunjukkan arah yang sejalan dengan perubahan sikap kebijakan tersebut. Arus investasi langsung ke Indonesia masih positif, tapi mulai melambat tajam.Laporan UNCTAD tahun 2024 mencatat nilai FDI turun dari 24 miliar dolar pada 2022 menjadi 21,6 miliar dolar pada 2023.Baca juga: Revolusi Ketenagakerjaan untuk Gen ZPada kuartal kedua 2025 penurunannya mencapai hampir tujuh persen dibanding tahun sebelumnya. Ini merupakan kontraksi terbesar sejak 2020 menurut laporan Reuters.Dalam peta regional, Indonesia justru tertinggal dari Vietnam dan Malaysia yang berhasil menarik investasi baru di sektor manufaktur dan teknologi tinggi.Penurunan ini bukan sekadar akibat gejolak global, tetapi cerminan menurunnya kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.Sementara itu, pergerakan pasar modal menunjukkan cerita berbeda. Di tengah turunnya arus FDI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus naik sepanjang tahun 2025.Hingga 31 Oktober 2025, IHSG menembus 8.163 poin, naik hampir sembilan persen secara tahunan.Rasio harga terhadap pendapatan atau P/E ratio berada di kisaran 13 kali, mencerminkan keyakinan investor terhadap laba perusahaan besar di tengah ketidakpastian global.Kapitalisasi pasar terhadap PDB mencapai sekitar enam puluh persen yang oleh beberapa lembaga seperti GuruFocus dikategorikan sebagai kondisi pasar yang agak mahal.Kenaikan ini terutama ditopang oleh saham-saham di sektor energi, tambang, dan perbankan yang menjadi tujuan utama arus modal domestik ketika sektor riil kehilangan daya tarik.Namun, lonjakan IHSG tersebut tidak sejalan dengan gerak ekonomi riil. Pasar keuangan yang menguat di tengah perlambatan FDI menunjukkan ketidakseimbangan yang semakin nyata antara sektor finansial dan sektor produksi.Arus dana besar ke bursa lebih mencerminkan perputaran modal dalam negeri ketimbang lahirnya investasi baru di industri.Kenaikan harga saham lebih digerakkan oleh likuiditas dan spekulasi jangka pendek daripada peningkatan kapasitas produksi.Kepercayaan di pasar finansial tumbuh, tetapi keyakinan investor asing melemah. Ekonomi tampak tumbuh di layar bursa, tapi kehilangan napas di ruang produksi.Kondisi pasar keuangan memperkuat tanda penurunan kepercayaan tersebut. Berdasarkan data Bank Indonesia, arus modal asing kembali mencatatkan net outflow sepanjang 29 September hingga 2 Oktober 2025, dengan nilai mencapai Rp 9,76 triliun.Angka ini merupakan yang tertinggi dalam tiga pekan terakhir, dan menandai keluarnya modal asing selama enam minggu beruntun sejak akhir Agustus 2025, dengan total menembus Rp 51,39 triliun.Dari total itu, penjualan bersih asing di pasar saham mencapai Rp 3,31 triliun dan di pasar Surat Berharga Negara Rp 9,16 triliun.Arus masuk hanya terjadi di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 2,71 triliun, tetapi nilainya belum cukup menahan keluarnya modal dari dua pasar utama.Sepanjang tahun berjalan hingga awal Oktober tahun ini, investor asing mencatat net outflow sebesar Rp 53,43 triliun di pasar saham dan Rp 128,4 triliun di SRBI.Indikator risiko juga menunjukkan arah serupa. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun memang turun ke level 78,87 basis poin dari 83,04 pada pekan sebelumnya, yang berarti biaya lindung risiko menurun.Baca juga: Purbaya Perlu Benahi Pengeluaran Negara, Tidak Hanya Pajak dan Bea CukaiNamun, penurunan CDS ini belum berhasil menarik kembali arus modal karena ketidakpastian global masih tinggi dan kepercayaan terhadap arah kebijakan domestik belum pulih.Kebuntuan politik di Amerika Serikat yang memicu government shutdown membuat dolar AS tetap kuat sebagai aset aman. Sementara tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, justru terus berlanjut.Dalam situasi seperti ini, investor asing memilih menahan diri dan menjaga posisi aman di luar pasar Indonesia.Dalam konteks makroekonomi, hubungan terbalik antara kenaikan IHSG dan penurunan FDI menunjukkan adanya distorsi dalam mesin pertumbuhan Indonesia.Sektor keuangan terus mencetak keuntungan, tetapi investasi produktif yang seharusnya menjadi dasar ekonomi jangka panjang justru melambat.
(prf/ega)
Defisit Kepercayaan Investor dan Ketimpangan Kebijakan Publik
2026-01-12 05:36:30
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:55
| 2026-01-12 04:48
| 2026-01-12 04:15
| 2026-01-12 04:09
| 2026-01-12 03:25










































