Jakarta - Di ruang sidang Pengadilan Militer III-15 Kupang, Nusa Tenggara Timur, udara terasa berat ketika nama Prada Lucky Chepril Saputra Namo kembali disebut. Prajurit muda berusia 23 tahun itu tak lagi hadir sebagai prajurit, melainkan sebagai korban. Korban dari kekerasan di lingkungan yang seharusnya menjaganya.Sidang lanjutan kasus kematian Prada Lucky kembali digelar pada awal November 2025. Sebanyak delapan saksi dihadirkan, memberi kesaksian tentang malam-malam penuh teror yang berakhir dengan kematian seorang prajurit muda di tangan rekan-rekannya sendiri.Tujuh belas terdakwa duduk di kursi pesakitan, empat anggota TNI Angkatan Darat, dua dokter, dan Maria Anselina Made, ibu angkat yang terakhir melihat Lucky hidup-hidup.AdvertisementMaria mengenang pertemuannya dengan Lucky. Awalnya, pada 26 Juli 2025, ia hanya mengenal pemuda itu sebagai prajurit yang sesekali membantunya mengambil sisa makanan dari dapur batalion untuk diberikan kepada ternak babinya. Dari pertemuan sederhana itu, tumbuh kasih layaknya anak dan ibu.“Lucky sering datang ke rumah kalau sedang ada waktu izin bermalam. Ia anak yang sopan dan rajin bantu-bantu,” tutur Maria dalam kesaksiannya di depan majelis hakim yang dipimpin Mayor Chk Subiyatno.Dua hari kemudian, 28 Juli 2025, Maria mendapati Lucky datang dalam keadaan mengenaskan, memakai kaus loreng, celana hitam pendek, tanpa alas kaki, tubuh penuh luka.“Lucky membuka bajunya, ada bekas luka. Waktu itu tidak kasih tahu (nama) pelaku. Kami ngobrol di ruang tamu,” ujarnya.Lucky mengaku dianiaya para senior di barak. Ia minta teh panas, lalu beristirahat di kamar. Maria sempat memberi obat pereda nyeri dan mengompres lukanya bersama tetangga.Sebelum tertidur, Lucky sempat berpesan agar Maria tak memberi tahu siapa pun bahwa ia bersembunyi di rumah. “Kalau ada yang tanya, jangan kasih tahu kalau dia ada di rumah saya,” katanya lirih.Namun, tak lama berselang, sekitar sepuluh prajurit datang mencari. Maria akhirnya mengaku. Lucky dijemput paksa dalam keadaan lemah.“Saya sempat berpesan agar mereka tidak lagi pukul Lucky. Saya bilang, apa pun kesalahannya, tolong jangan dipukuli lagi karena semua badannya penuh luka,” ungkap Maria.Beberapa hari kemudian, Maria menerima kabar bahwa Lucky dirawat di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo. Saat ia datang, luka di tubuh anak angkatnya itu jauh lebih banyak. Dua hari setelahnya, 6 Agustus 2025, Lucky meninggal dunia.
(prf/ega)
Selang Kompresor dan Ketidakbedayaan Prada Lucky Melawan Keberingasan Para Senior
2026-01-12 04:33:16
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:47
| 2026-01-12 04:26
| 2026-01-12 03:41
| 2026-01-12 03:21










































